Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Karena Marah, Jadilah Garansi Antisalah

Karena Marah, Jadilah Garansi Antisalah

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

Dahlan Iskan berdiskusi dengan Leak Koestiya, Pemred Jawa Pos.

Dahlan Iskan berdiskusi dengan Leak Koestiya, Pemred Jawa Pos.

Wajah Dahlan Iskan malam itu tampak geram. Dibacanya berulang-ulang beberapa edisi “Jawa Pos”. Lalu dicoret-coretnya beberapa berita di setiap halaman dengan spidol merah.

Sesaat kemudian, koran penuh coretan itu ditempel di papan pengumuman redaksi. Begitu Dahlan menghilang dari ruangan, awak redaksi berebut membaca tulisan Dahlan.

Dari kalimat corat-coret itu, jelas kelihatan bahwa Dahlan tengah marah besar. Gara-garanya banyak kesalahan pada berita yang tercetak, dalam beberapa edisi itu.

Ada kesalahan yang disebabkan kurang teliti seperti salah ketik. Ada yang hurufnya kurang satu, hurufnya kebanyakan satu.

Ada juga kesalahan yang berasal dari kerancuan pengetahuan wartawan dan redaktur terhadap ilmu bahasa. Misalnya, penulisan awalan “di” yang dipisah dengan “di” yang digandeng.  Ini yang paling banyak terjadi.

Padahal, aturannya sudah jelas. Awalan “di” harus digandeng untuk kata kerja pasif. Misalnya “dipukul” atau “dilawan”. Awalan “di” harus dipisah untuk menunjukkan keterangan tempat. Misalnya, “di rumah” atau “di kampus”.

Ada juga logika bertutur yang buruk, sehingga alinea satu dengan alinea selanjutnya tidak nyambung.  Tulisan yang ,”meloncat-loncat” seperti itu memang bikin pusing pembaca.

Buntut kemarahan itu, Dahlan pada akhir 1991 mengumumkan rencana meluncurkan program “Garansi Antisalah”. Inti program itu menantang semua pembaca “Jawa Pos” yang berhasil menemukan kesalahan berita “Jawa Pos” akan mendapat hadiah. Program “Garansi Antisalah” diberlakukan selama tiga bulan.

Kesalahan yang disyaratkan adalah salah ketik pada berita, salah tata bahasa pada berita, salah grafis, salah teks grafis, salah foto dan salah teks foto. Setiap pembaca yang melapor akan mendapat hadiah langganan gratis satu hingga tiga bulan.

Karyawan “Jawa Pos” langsung memprotes rencana itu. Sebab, “Jawa Pos” bisa tekor kalau program itu dijalankan, mengingat kesalahan yang disyaratkan terjadi hampir setiap hari. “Wartawan dan redaktur harus menjamin akurasi tulisan dan visualnya karena hal itu menentukan masa depan “Jawa Pos”. Kalau tidak mau tekor, kita harus cari akal,” kata Dahlan.

Apa idenya? “Kita tempatkan redaktur bahasa di semua desk. Mereka harus sarjana bahasa,” lanjut Dahlan.

Sejak itu, “Jawa Pos” memberlakukan prosedur baru dalam penerbitan berita, grafis dan foto. Setelah diedit redaktur, berita harus dikoreksi lagi oleh redaktur bahasa, baru boleh dikirim ke pracetak.

Tiga bulan program berjalan, pembaca hanya berhasil menemukan kesalahan tidak lebih dari 10 kali. Artinya, hingga program “Garansi Antisalah” dipromosikan, kurang dari 10 orang yang mendapat langganan gratis selama satu hingga tiga bulan.

Meski tidak sampai 10 kesalahan, Dahlan tetap belum puas. Terhadap setiap laporan pembaca, Wartawan dan redaktur berita yang mengedit mendapat “hukuman” dengan wajib ikut kelas bahasa.

Pengajarnya redaktur bahasa itu sendiri. Dalam kelas itu, redaktur bahasa menjelaskan kembali pelajaran tata bahasa. Persis seperti ketika belajar di SMP dan SMA.

Menulis berita ternyata tidak cukup hanya mengerti peristiwanya, tanpa memahami kenyamanan pembaca. Di situlah pentingnya pengetahuan berbahasa.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: