Catatan Murid Dahlan

 

Lagi, Dahlan Iskan Bikin Malu Pejabat

Ada pejabat yang marah-marah ketika ditolak masuk pesawat karena terlambat. Ada pejabat yang ngamuk hanya gara-gara tasnya harus masuk bagasi pesawat. Bahkan ada pejabat yang akhirnya diadili karena menampar pramugari yang menegurnya.

Pejabat itu sejatinya adalah pelayan rakyat. Walau bernama menteri sekali pun, posisinya adalah ‘’jongos’’, sementara rakyat adalah ‘’majikan’’. Maka menjadi sangat aneh kalau ada pejabat yang banyak tingkah. Bukannya melayani malah minta dilayani rakyat.

Prinsip pejabat sebagai ‘’babu’’-nya rakyat itu rupanya dihayati Dahlan Iskan. Ketika melihat tiga bule asal Belanda mengalami masalah tidak boleh naik ke pesawat Garuda Indonesia GA319 dari Surabaya menuju Jakarta,  Sabtu (16/11), Dahlan segera turun tangan.

Dahlan segera mencari tahu, apa masalah yang menimpa ketiga turis itu, sehingga tidak diperkenankan masuk pesawat. ‘’Saat antri mau masuk pesawat, Pak Dahlan melihat dua wanita dan seorang pria bule antri dan tidak bisa naik pesawat,’’ kata Kepala Bagian Humas Kementerian BUMN, Faisal Halimi yang juga ikut dalam rombongan.

Akhirnya, Dahlan memanggil petugas Garuda yang tengah bertugas untuk menolong mereka. ‘‘Tolong anda pastikan agar mereka bisa terbang. Kasihan kalau tidak connect dengan penerbangan berikutnya. Bila perlu tinggalkan saya, jika kursinya memang penuh,’‘ ucap Faisal menirukan Dahlan.

Yuni, petugas Garuda Indonesia, menjelaskan bahwa ketiga penumpang asal Belanda itu memang datang terlambat, sementara waktu chek in sudah ditutup.‘‘Karena mereka datang setelah closing time chek in,  petugas perlu waktu untuk membuka kembali sistem check in,’‘ ungkap Faisal.

Tindakan Dahlan ini rupanya menarik perhatian para penumpang Garuda lainnya. ‘‘Alhamdulillah akhirnya mereka bisa terbang juga. Beberapa penumpang mengapresiasi apa yang dilakukan Pak Dahlan tadi. Ada yang sampai geleng-geleng kepala melihat Menteri BUMN mau ngurusin orang lain yang tidak dikenalnya,’‘ tukas Faisal.

Dahlan sedang pencitraan? Tidak. Sebagai pejabat BUMN, tindakan Dahlan membantu penumpang Garuda itu justru merupakan kewajibannya. Tentu sangat tidak elok, bila Dahlan membiarkan ketiga penumpang itu ‘’keleleran’’ sementara dirinya bisa terbang tanpa kesulitan.

Jadi pejabat memang tidak boleh gila hormat. Apalagi menjadi lintah darat: untuk menumpuk kekayaan dan membiarkan rakyatnya sekarat.

Mewahnya Makan Siang Dahlan Iskan

Mewahnya Makan Siang Dahlan Iskan.

Mewahnya Makan Siang Dahlan Iskan

100_1297

Civitas academica Universitas Advent Indonesia (Unai) Bandung tidak menyangka kalu Menteri BUMN Dahlan Iskan bersedia makan siang dengan menu asrama mahasiswa. Peristiwa itu terjadi seusai Dahlan menjadi pembicara dalam ceramah umum mahasiswa aula Unai, Rabu (13/11).

Makan siang bersama mahasiswa sebenarnya tidak direncanakan. Sebab, Dahlan dijadwalkan hanya akan menjadi pembicara dari pukul 10.00 hingga pukul 12.00 saja. Setelah itu, Dahlan harus tiba di Jakarta pukul 15.00 karena para anggota Dharma Wanita seluruh Indonesia telah menantinya.

Tetapi Dahlan merasa tidak tega meninggalkan acara dialog dengan mahasiswa Unai ketika tenggat dua jam telah lewat. Antusiasme mahasiswa itu berhasil membuatnya berada lebih lama di kampus yang berdiri sejak 1949 di kawasan pegunungan Lembang itu.

Karena telah masuk jadwal makan siang, Dahlan langsung bersedia, ketika pembawa acara menawarkan makan siang bersama penghuni asrama. Jawaban itu mengejutkan civitas academica. Sebab, banyak yang menyangka makan siang Dahlan tidak berbeda dengan pejabat-pejabat yang mereka kenal sebelumnya.

100_1296

Tiba di ‘’dining room’’, Dahlan menerima sebuah baki alumunium. Di atasnya telah tersaji dua potong tempe bacem, semangkuk sayur lodeh, sepiring nasi, semangkuk lalapan dan semangkuk sop buah. Menu itu sama dengan yang dinikmati 1.800 mahasiswa, dosen dan karyawan Unai.

Beberapa mahasiswa berkomentar heran melihat Dahlan yang menikmati menu asrama itu. ‘’Bukan main… Sudah jadi pejabat, tapi masih doyan makanan asrama,’’ celetuk seorang mahasiswi kepada temannya. Saya yang sedang berdiri di dekatnya hanya tertawa dalam hati. ‘’Belum tahu dia kalau menu asrama ini lebih bagus dari makan Pak Dahlan biasanya,’’ batin saya.

Benarkah lebih bagus? Ya! Coba bandingkan dengan menu yang disantap Dahlan seusai meresmikan KA Pangrango jurusan Bogor – Sukabumi di Stasiun Bogor Paledang, Sabtu lalu (9/11). Saat itu Dahlan hanya makan soto kuning kelas gerobak kaki lima. Tempat makannya pun seadanya, di samping pagar pembatas rel kereta.

100_1084

‘’Standar asrama mahasiswa ternyata tidak kalah dengan hotel bintang lima,’’ puji Dahlan sambil merapikan alat makannya. Baki alumunium itu tampak bersih. Tidak ada satu pun menu yang tersisa. Makan siang di asrama mahasiswa itu terlalu mewah buat Dahlan Iskan, dibanding biasanya.

Joko Intarto

 

Hantu Pohon di Era Jurnalisme Digital

Hantu Pohon di Era Jurnalisme Digital.

 

Semula saya tidak optimistis. Karena itu, saya hanya melakukannya dengan ‘’coba-coba’’. Ambil paket hemat saja. Karena hanya ingin membuat analisa.

Dengan biaya hanya USD 50, saya ingin menjangkau 50 ribu orang. Tidak masuk akal? Biar saja. Namanya juga coba-coba!

Tapi demikianlah faktanya. Artikel yang saya posting itu difacebook itu setelah ‘’boosting’’ dengan dana sekitar Rp 500 ribu, dibaca lebih dari 160 ribu orang.

Lebih dari 3 ribu orang di antaranya memberi komentar dan menyatakan ‘’suka’’. Lebih dari 300 orang dengan sukarela menyebarkan artikel itu kepada jejaringnya. Lebih dari 500 orang menjadi member baru.

Murah? Tentu saja sangat murah. Hitung saja, berapa biaya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada setiap pembaca. Belum lagi ‘’bonus’’ berupa keterlibatan ribuan pembaca untuk berdiskusi melalui forum komentar dan tanda suka dan menyebarkannya. Itu pun masih ditambah lagi dengan masuknya member baru.

Artikel saya di ‘’Kompasiana’’ pun kecipratan tuahnya. Jumlah pembaca ikut bertambah. Jumlah teman saya juga meningkat. Artikel saya sekarang sudah ada yang dibaca 2.400 orang. Angka itu masih terlalu sedikit, tetapi sudah cukup menyenangkan saya.

Ahmad Zaini, partner saya dalam menggarap strategi komunikasi media sosial, menyimpulkan bahwa dari sisi keberhasilan berkomunikasi, artikel saya itu tergolong sangat berhasil. Sebab, responnya tiga kali lipat dibanding data rata-rata. Mengapa bisa begitu? ‘’Tema dan teknik penulisannya,’’ jawab Zaini.

Benarkah? Tanpa bermaksud memuji artikel itu, saya tuliskan hasil analisa dari sisi jurnalistik setelah mendiskusikan lebih dari satu jam bersama Zaini.

TEMA HARUS AKTUAL

Tujuan penerbitan artikel saya adalah mengingatkan pembaca untuk ‘’menghargai waktu’’. Menurut saya, misi ini penting agar ‘’jam karet’’ tidak menjadi hal biasa di masyarakat. Menghargai waktu merupakan tema yang aktual karena mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan itu menemukan momentumnya pada saat ada tokoh membatalkan diri sebagai pembicara seminar di Semarang. Harusnya tokoh itu menjadi pembicara pukul 08.00 pagi. Namun hingga 30 menit kemudian, seminar yang digagas IAIN Walisongo itu belum juga dimulai. Tokoh itu kemudian pamit untuk meneruskan agenda berikutnya di kampus Universitas Diponegoro.

GUNAKAN RUKUN IMAN BERITA

Ketertarikan pembaca tidak harus menyangkut hal-hal yang luar biasa. Nyatanya, tema ‘’menghargai waktu’’ yang sederhana pun bisa menarik begitu banyak orang untuk membacanya.

Rahasianya ada pada ‘’rukun iman berita’’. Peristiwa kecil itu menjadi disukai karena dinilai memenuhi dua hal: ‘’menarik’’ dan ‘’penting’’.

Disebut ‘’menarik’’ karena ‘’baru’’. Artikel itu saya posting di www.kompasiana.com/kompasanda pada hari yang sama dengan saat peristiwanya. Pembatalan sebagai pembicara seminar juga merupakan hal ‘’baru’’ yang kurang lazim terjadi.

Artikel menjadi semakin ‘’menarik’’ karena ‘’dekat’’. Peristiwanya terjadi di Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Kota yang terkenal dengan ‘’bandeng presto’’ dan ‘’lumpia’’ itu memiliki kedekatan dengan pembaca, baik secara geografis maupun psikologis. Ceritanya akan beda kalau peristiwanya terjadi di luar negeri.

Kisah semakin menarik karena ada unsure ‘’human interest’’ di dalamnya. Sang pembicara hari itu harus menyewa pesawat dengan uang pribadi seharga USD 18.000 karena harus hadir di dua kampus di Semarang dan harus tiba di Banjarmasin pukul 15 WITA. Sedangkan penerbangan langsung dari Semarang ke Banjarmasin tidak ada.

Tapi yang membuat kisah itu lebih menarik adalah keterlibatan tokohnya. Kebetulan, tokoh yang membatalkan diri sebagai pembicara seminar itu adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Mantan CEO ‘’Jawa Pos’’ itu memang sedang menjadi perhatian masyarakat, di dalam dan luar negeri.

PILIH TARGET PEMBACA

Ini uniknya beriklan di media social. Target pembaca pun bisa ditentukan secara suka-suka. Database pengguna media sosial menjadi dasar sistem informasinya bekerja. Anda boleh pilih rentang usianya, wilayah tempat tinggalnya, tingkat pendidikanya, jenis kelaminnya, hobinya, ketertarikannya dan baurannya.

Karena basisnya adalah digital, semua notifikasi tercatat dengan akurat dan real time. Jadi, setiap saat bisa dipantau pergerakan traffic pembacanya. Trennya naik atau turun, mudah dibaca dan untuk dibuat strategi berikutnya bila ingin ‘’mengerek’’ popularitasnya.

Keunikan fitur promosi di media sosial adalah peluang baru yang bisa dimanfaatkan siapa saja. Seorang calon anggota legislatif tak perlu menjadi ‘’hantu pohon’’ lagi untuk memperkenalkan diri kepada pemilih potensialnya. Selain mahal biayanya, juga tidak jelas efektivitasnya. Melanggar peraturan Pemda dan Komisi Pemilihan Umum pula!

Lembaga pendidikan tinggi cukup menyasar pengguna Facebook berusia remaja yang tinggal di kota-kota yang menjadi sasarannya. Lembaga asuransi pensiun bisa mengelola pesan apa yang cocok untuk pengguna berusia di atas 50 tahun saja. Rumah sakit bisa menginformasikan layanannya hanya kepada orang-orang dengan kecenderungan tertentu saja.

Seperti itulah ilmu jurnalistik bekerja. Begitulah ilmu media sosial bekerja. Pengetahuan serta pengalaman dalam jejaring media dan kepenulisan sangat mempengaruhi hasilnya. Dua hal inilah yang menjelaskan mengapa tidak semua tenaga kreatif itu punya honor yang sama.

Kontak saya bila Anda mau mencoba.

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Follow me @intartojoko

Email: jokointarto@jpmc.co.id

Ketemu Jalan Gara-Gara Ditegur Dahlan Iskan

Makan kaledo itu sengsaranya tidak sebanding dengan hasilnya. Dua tangan harus bertenaga penuh untuk memainkan garpu dan pisau. Hasilnya hanya secuil daging dan tulang muda. Tapi kalau berhasil menyedot sumsumnya, lezatnya luar biasa.Seperti makan kaledo itulah gambara pengalaman saya menerbitkan koran di kota Palu pada 1993. Susah, banyak masalah dan berdarah-darah! Tapi saya selalu ingat nasihat Dahlan Iskan untuk tidak mengeluh, apalagi lari.Masalah pertama yang saya temui adalah, ketika membaca laporan keuangan. Posisi kas nyaris kosong! Kertas dan plate hanya cukup untuk tiga bulan. Tinta cukup untuk enam bulan.Oplah terjual hanya 900 eksemplar dari cetak 1.500 eksemplar per hari. Tunggakan di agen hampir merata. Sementara tagihan jatuh tempo dari supplier sudah menumpuk sejak berbulan-bulan sebelumnya.Dari semua penagih, yang paling menakutkan saya adalah Bank BNI dan Bank BRI. Sebab, tanah berikut kantor redaksi dan tanah berikut percetakannya dalam pengawasan kedua bank pelat merah itu. Bila gagal bayar, seluruh asset akan disita. Koran sudah pasti tidak akan terbit lagi.

melaluiKetemu Jalan Gara-Gara Ditegur Dahlan Iskan.

Ketemu Jalan Gara-Gara Ditegur Dahlan Iskan

Makan kaledo itu sengsaranya tidak sebanding dengan hasilnya. Dua tangan harus bertenaga penuh untuk memainkan garpu dan pisau. Hasilnya hanya secuil daging dan tulang muda. Tapi kalau berhasil menyedot sumsumnya, lezatnya luar biasa.

Seperti makan kaledo itulah gambara pengalaman saya menerbitkan koran di kota Palu pada 1993. Susah, banyak masalah dan berdarah-darah! Tapi saya selalu ingat nasihat Dahlan Iskan untuk tidak mengeluh, apalagi lari.

Masalah pertama yang saya temui adalah, ketika membaca laporan keuangan. Posisi kas nyaris kosong! Kertas dan plate hanya cukup untuk tiga bulan. Tinta cukup untuk enam bulan.

Oplah terjual hanya 900 eksemplar dari cetak 1.500 eksemplar per hari. Tunggakan di agen hampir merata. Sementara tagihan jatuh tempo dari supplier sudah menumpuk sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Dari semua penagih, yang paling menakutkan saya adalah Bank BNI dan Bank BRI. Sebab, tanah berikut kantor redaksi dan tanah berikut percetakannya dalam pengawasan kedua bank pelat merah itu. Bila gagal bayar, seluruh asset akan disita. Koran sudah pasti tidak akan terbit lagi.

Masuk ke ruang redaksi, situasinya lebih miris lagi. Hanya ada 2 unit komputer grafis dan empat unit komputer kerja redaksi. Kondisinya sudah tua. Ternyata itu bekas komputer redaksi ‘’Jawa Pos’’ Surabaya yang terkena peremajaan. Untuk menyelesaikan 8 halaman koran, tentu kurang memadai.

Jumlah wartawan dan redaktur saat itu ada 10 orang. Jadi harus bergantian. Wartawan mengetik dulu semua berita. Setelah selesai, baru redaktur yang menggunakan komputer.

Tenaga desain lay out hanya dua orang. Pernah suatu ketika keduanya tidak masuk. Yang satu sakit. Yang satu sakit dan yang satu ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Terpaksa redakturnya yang menata halaman.

Hasilnya adalah cetak terlambat dan kualitas desainnya buruk. Tapi itu lebih baik daripada koran tidak terbit sama sekali. Mana bisa kita memasang pengumuman mohon maaf tidak terbit karena layouter sakit?

Percetakan juga punya problem sendiri. Hanya ada satu unit mesin cetak Goss dengan kapasitas cetak 4 halaman hitam putih dengan satu unit head mesin potong. Dengan satu mesin, maka untuk mencetak 8 halaman berarti membutuhkan dua kali cetak.

Dengan kecepatan cetak rata-rata 4.000 eksemplar per jam, maka butuh sekurang-kurangnya tiga jam untuk mencetak 8 halaman hitam putih dengan oplah 5.000 eksemplar.

Karena sekali cetak hanya bisa 4 halaman, butuh waktu tambahan untuk menyisip satu per satu. Rata-rata sekali sisip butuh 5 detik. Berarti waktu yang diperlukan untuk menyisipkan seluruh cetakan adalah 5 detik x 5.000  atau 25.000 detik.

Bila dikonversi ke menit menjadi 25.000 : 60 atau 416 menit atau 6 jam. Harus ada 6 tenaga sisip agar bisa menghemat 5 jam!

Karena target edar di agen adalah pukul 04.00 maka cetak harus sudah mulai pukul 24.00. Proses sebelum cetak adalah membuat film dan plate cetak yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Berarti deadline layout redaksi adalah pukul 23.30.

Perlu rata-rata dua jam untuk menyelesaikan layout 8 halaman dengan dua komputer. Berarti redaktur harus menyelesaikan editing berita pukul 21.30.

Redaktur butuh dua jam untuk mengedit seluruh berita. Maka reporter harus sudah menyelesaikan berita pukul 19.30. Bila wartawan butuh dua jam untuk menulis berita, maka wartawan sudah harus masuk kantor paling lambat pukul 17.30.

Problem berita lokal teratasi. Tapi berita nasional belum. Sebab, ‘’Jawa Pos’’ memberlakukan deadline berita nasional pukul 24.00 WIB. Padahal, Palu satu jam lebih cepat.

Saya nyaris menyerah sebelum tenggat tiga bulan, ketika kertas sudah mulai menipis dan uang kas tidak cukup untuk membeli koran baru. Dana Rp 15 juta yang saya terima dari ‘’Jawa Pos’’ untuk talangan gaji karyawan tiga bulan sudah habis pada bulan kedua.

Pada puncak krisis itulah, saya memberanikan menelepon Dahlan Iskan untuk mengabarkan kesulitan. Bukannya mendapat jalan keluar, Dahlan malah memberi teguran.  ‘’Jual koran yang lebih keras. Cari iklan yang lebih giat. Cari utang ke siapa. Saya tidak tahu,’’ kata Dahlan dengan nada tinggi.

Cari utangan! Itulah inspirasi dari teguran Dahlan. Tapi utang pada siapa? Tanpa diduga, malam harinya saya bertemu Arpian, area manager PT Djarum, teman lama saya di Jakarta. Arpian kemudian membantu dengan memasang iklan yang nilainya cukup untuk membeli kertas koran sebanyak 4 kontainer 20 feet.

Pertemuan dengan Arpian itulah yang menyelamatkan Mercusuar dari kebangkrutannya. Dua tahun kemudian, Mercusuar berhasil melunasi seluruh utangnya di supplier dan bank.

Tapi yang paling menyenangkan hati adalah ketika bisa membagi deviden kepada pemegang saham pada awal 1995. Saya ingat betul betapa terharunya Pak Rusdi Toana, pendiri ‘’Mercusuar’’ saat saya menyerahkan cek di rumahnya. ‘’Keinginan terbesar saya adalah naik haji. Saya akan berangkat dengan uang ini,’’ kata Pak Rusdi.

Sambil menangis, Pak Rusdi memeluk saya lama sekali. Tetesan air mata itu, bahkan masih bisa saya rasakan hingga kini.

Joko Intarto @IntartoJoko

Penulis dan Praktisi Media

Artikel ini merupakan seri ketiga dari tiga tulisan untuk merayakan ulang tahun ke-12 Radar Sulteng

 

Pelajaran Menghargai Waktu dari Pak Menteri

Pelajaran Menghargai Waktu dari Pak Menteri.

Pelajaran Menghargai Waktu dari Pak Menteri

Agar bisa hadir tepat waktu, Dahlan Iskan pun  menyewa pesawat dengan uang pribadi.

Agar bisa hadir tepat waktu, Dahlan Iskan pun menyewa pesawat dengan uang pribadi.

 

Saya baru tiba di rumah ketika sebuah pesan pendek masuk ke handphone saya. “Besok pagi ikut saya ke Semarang dan Banjarmasin. Sore kembali ke Jakarta. Mau nggak?” tulis Menteri BUMN Dahlan Iskan, Selasa (22/10) menjelang tengah malam.

Tawaran ke Semarang tidak menarik bagi saya. Sebab, saya baru meninggalkan kota Semarang, sehari sebelumnya. Tapi tawaran ke Banjarmasin sungguh menggoda. Maklum, saya belum pernah mengunjungi kota itu sekali pun.

“Oke Pak. Siap ikut,” balas saya melalui pesan pendek.

“Kita berangkat dari Monas pukul 05.15,” sahut Dahlan, juga melalui pesan pendek.

Komunikasi yang teramat singkat. Tapi saya tidak berusaha untuk menanyakan apa agenda Pak Menteri di Semarang dan Banjarmasin. Pekerjaan menyusun proposal untuk klien segera mengalihkan perhatian saya.

Di tengah kesibukan, handphone saya berdering. Darmawan, manager promosi Harian Indopos menghubungi saya, menanyakan lokasi berkumpul di Monas. Rupanya, Darmawan juga ditawari ikut ke Semarang dan Banjarmasin oleh Dahlan. “Berangkat bareng saja,” jawab saya.

Pukul 04.00 saya dan Darmawan meninggalkan rumah di Kelapa Gading menuju Monas. Seusai salat subuh di Wisma Antara, saya berjalan kaki menuju lokasi patung Ikada. Lokasi favorit Dahlan bersenam pagi bersama kawan-kawannya.

Tiba di lapangan Ikada, saya bertemu dengan beberapa orang lagi. Ada Fauzi pimpinan Harian Pasundan Ekspres dan Gus Azis Muis, ustadz muda yang baru saya kenal.

Tidak seperti biasanya, hari itu, Dahlan hanya bersenam 30 menit. “Kita harus berangkat lebih awal, karena kita tidak memakai mobil dan polisi pengawal,” kata Dahlan sambil berjalan kaki menuju kantor Kementerian BUMN.

Dahlan adalah satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu yang tidak menggunakan fasilitas pengawalan polisi. Karena tanpa pengawal, Dahlan harus pintar dan disiplin waktu karena kemacetan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

“Di Semarang, apa ada acara apa Pak,” tanya saya kepada Pak Menteri.

“Menghadiri undangan IAIN Walisongo dan FISIP Undip,” jawab Dahlan sambil membetulkan tali sepatu kets “DI-19″ kesukaannya.

“Atur penumpang, minimal 3 orang dalam 1 mobil. Kita akan lewat jalur 3 in 1,” kata Dahlan, sembari masuk ke mobilnya, Nissan Serena keluaran 2011, yang biasa dipakai istrinya.

Mengapa pakai Serena? Di mana sedan Mercy-nya? “Mercy sudah 2 minggu di bengkel. Maklum, sudah 7 tahun dipakai. Mulai banyak yang harus diperbaiki,” kata Sahidin, karyawan Jawa Pos yang sekarang ditugaskan menjadi sopir khusus buat Pak Menteri.

Beriringan kami menuju lapangan terbang Halim Perdana Kusuma di Jakarta Timur. Perjalanan ke Semarang dan Banjarmasin memang tidak menggunakan pesawat regular, melainkan pesawat carter karena rute penerbangan dan jadwal kegiatannya tidak bisa disesuaikan.

“Ini soal komitmen. Saya sudah menyatakan siap hadir menjadi pembicara di IAIN Walisongo dan FISIP Undip. Ternyata, hari yang sama juga ada pelantikan anggota PWI Pusat di Banjarmasin. Melihat rute dan jadwalnya, tidak mungkin kita naik Garuda atau Citilink. Harus sewa pesawat,” jawab Dahlan.

Tepat pukul 06.30, pesawat Avanti yang disewa dari Susi Air tinggal landas meninggalkan lapangan terbang Halim Perdana Kusuma, menuju lapangan terbang Ahmad Yani, Semarang. Total ada 8 orang penumpang ditambah 1 pilot dan 1 co pilot.

Inilah pengalaman terbang termahal bagi saya. Perjalanan dari Jakarta – Semarang – Banjarmasin – Jakarta itu biayanya USD 18.000!

Setelah mengudara 45 menit, pesawat pun mendarat di Lapangan Terbang Ahmad Yani, Semarang, dengan mulus. Bersama rombongan rektoran IAIN Walisongo yang menjemput, rombongan bergegas menuju Hotel Pandanaran. Di situ, Dahlan didaulat menjadi pembicara kunci dalam sebuah seminar bertema komunikasi.

Tiba di hotel, suasana masih sepi. Dahlan mulai bertanya-tanya, mengapa seminar dimulai? Bukankah pukul 08.00 seharusnya Dahlan sudah membawakan presentasi?

Tiga puluh menit Dahlan menunggu. Seminar tak kunjung dimulai. Dahlan mulai gelisah. Ditinggalkannya ruang tunggu VIP menuju ruang seminar. Rupanya, belum ada tanda-tanda seminar akan segera dimulai.

“Mohon maaf, saya sudah 30 menit di sini. Tapi seminarnya belum juga dimulai. Waktu saya sangat terbatas. Saya ke kampus Universitas Diponegoro saja,” kata Dahlan sambil bergegas ke mobil jemputan yang disediakan Universitas Diponegoro di halaman hotel.

Panitia seminar IAIN Walisongo tampak panik. “Tunggu 30 menit lagi Pak,” jawab panitia. “Maaf, tidak bisa. Lain waktu, saya akan datang lagi,” sahut Dahlan.

“Inilah potret kita hari ini. Masih banyak orang yang tidak menghargai waktu. Kita sudah bela-belain datang dengan menyewa pesawat. Ini bukan soal harga sewanya. Tetapi soal komitmennya,” kata Dahlan di dalam mobil.

Kekecewaan Dahlan akhirnya terbayar lunas di kampus Universitas Diponegoro. Walau kedatangan Dahlan satu jam lebih awal dari rencana, lebih dari 800 mahasiswa menyambutnya. Bahkan Irwan Hidayat, bos Sido Muncul, yang menjadi pembicara kedua dalam seminar “Here to be Entrepreneur” yang digagas mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis FISIP Undip itu pun sudah berada di lokasi.

“Ini baru contoh hebat. Memegang komitmen dan menghargai waktu,” puji Dahlan kepada panitia dan peserta seminar di Undip.

Joko Intarto @IntartoJoko

Penulis dan Praktisi Komunikasi

%d blogger menyukai ini: