Catatan Murid Dahlan

Beranda » Yang Ringan Yang Lucu » Cetak Jarak Jauh yang Sungguh-Sungguh Jauh

Cetak Jarak Jauh yang Sungguh-Sungguh Jauh

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

 

Kalau sekarang Anda membaca istilah “sistem cetak jarak jauh” atau SCJJ, pasti yang terbayang adalah pencetakan sebuah media di suatu tempat yang dikendalikan dari tempat lain menggunakan teknologi internet. Memang teknologi internet begitu hebat dan membuat revolusi yang luar biasa dalam industri percetakan modern. Tapi bagaimana cetak jarak jauh sebelum internet dikenal?

 

Keberhasilan para transmigran di luar Jawa ternyata membawa berkah tersendiri bagi Jawa Pos. Kehidupan para transmigran di perantauan, khususnya di kawasan timur Indonesia, mendorong pertumbuhan pasar Jawa Pos secara signifikan. Rindu tanah kelahiran, rupanya terobati dengan berbagai berita Jawa Timur dan Jawa Tengah yang disuguhkan Jawa Pos setiap harinya.

 

Waktu saya mengelola penerbitan koran di Palu pada 1993 atau 20 tahun lalu, koran Jawa Pos adalah musuh utama koran lokal yang saya kelola. Walau koran yang saya kelola adalah Group Jawa Pos, di pasar, koran saya harus bertempur melawan Jawa Pos. Apalagi, waktu itu, Jawa Pos oplahnya lebih besar dari koran yang saya kelola.

 

Walau pun Jawa Pos beredar pukul 09.00, masyarakat di Palu lebih memilih Jawa Pos ketimbang koran lokal saya yang terbit pukul 05.00. Berbagai cara saya lakukan untuk menahan laju Jawa Pos sekaligus mengembangkan pasar koran lokal saya. Tetapi jurus-jurus saya kandas. Jawa Pos tetap tak terbendung.

 

Dari berbagai kota di luar Jawa, pertumbuhan Jawa Pos sangat signifikan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Untuk melayani pembaca Kalimantan, Jawa Pos memutuskan cetak jarak jauh di Balikpapan.

 

Hitung-hitungan bisnis sudah disimulasi. Hasilnya, cetak di Kalimantan adalah pilihan terbaik. Problem yang tidak segera selesai justru dari sisi teknik dan teknologi. “Bagaimana cara kirimnya ke Kalimantan?”

 

Pada 1991, pengiriman data sudah bisa menggunakan modem yang dihubungkan dengan fixed line atau kabel telepon rumah. Namun, kemampuan modemnya masih sangat rendah. Digunakan untuk mengirim satu file berita yang diketik dua halaman saja sering putus di tengah jalan. Apalagi kalau mengirim foto yang volumenya lebih besar. Jadi, mengirim halaman-halaman koran dengan resolusi tinggi masih belum memungkinkan.

 

Bukan Dahlan Iskan kalau cepat menyerah pada keadaan. Cetak jarak jauh harus tetap berjalan. Setelah berpikir keras, ketemulah jalan keluar untuk mengatasi kendala modem itu. Dahlan memutuskan untuk melakukan cetak jarak jauh dengan konsep “remote printing” betulan alias cetak jarak jauh yang sungguh-sungguh jauh.

 

 Setiap selesai cetak, ada satu karyawan Jawa Pos yang menyiapkan film, untuk dibawa ke Balikpapan dengan penerbangan perdana. Tugas karyawan itu adalah mengirimkan melalui jasa cargo secara port to port. Film dikirim ke Bandara Juanda, setelah itu diterbangkan ke Balikpapan. Sesampai di Bandara Sepinggan, ada petugas yang mengambil di terminal cargo, untuk dipasang di mesin cetak.

 

Inilah teknologi cetak jarak jauh yang sungguh-sungguh jauh dan butuh kesungguh-sungguhan untuk menjalankannya secara konsisten. Tak ada rotan, akar pun jadi.

 

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: