Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Dikira Tukang Lampu Gara-Gara Nama

Dikira Tukang Lampu Gara-Gara Nama

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Dari kiri ke kanan: Saya, istri, ibu mertua, anak bungsu, ibu, adik bungsu dan adik ipar bungsu.

Dari kiri ke kanan: Saya, istri, ibu mertua, anak bungsu, ibu, adik bungsu dan adik ipar bungsu.

Menjelang akhir era 90-an, Dahlan Iskan melontarkan gagasan untuk mengganti sejumlah nama koran Jawa Pos Group. Alasannya, banyak pemasang iklan dan biro iklan di Jakarta yang sulit mengingat nama dan daerahnya.

Ada koran-koran yang menggunakan kata daerah. Misalnya “Akcaya” dan “Manuntung”. Bagi yang tidak pernah tinggal di Pontianak dan Balikpapan, pasti sulit memahami arti akcaya dan manuntung. Kalau pun mengerti, belum tentu mereka paham bahwa akcaya dan manuntung adalah nama koran di Pontianak dan Balikpapan.

Ada juga koran yang menggunakan kata “suara”, seperti Suara Nusa di Mataram dan Suara Indonesia di Surabaya. Dahlan berpendapat, kata “suara” lebih cocok untuk nama radio, ketimbang nama koran.

Dahlan kemudian menyiapkan nama baru untuk koran-korannya. Nama itu terdiri atas dua kata. Yang satu berkaitan dengan informasi. Yang satu berkaitan dengan daerah. Kalau keduanya digabungkan berkonotasi dengan pengertian: media atau informasi suatu daerah. Kata yang dianggap tepat adalah “radar”. Ada juga nama yang berkaitan dengan makna kecepatan dan wilayah seperti “ekspres”, “pos” dan “Post”.

Beberapa bulan kemudian, nama-nama koran Jawa Pos Group pun berubah. “Manuntung” berubah menjadi “Kaltim Post”. Koran “Akcaya” menjadi “Pontianak Post”. Koran “Suara Nusa” menjadi “Lombok Post”.

Ada juga nama koran yang diubah karena pemerintah gagal membangun konsep pengembangan wilayah itu.  Padahal nama wilayahnya sudah terlanjur digunakan. Namanya “Sijori Pos”.

Sijori adalah akronim dari Singapura, Johor, Riau. Sijori merupakan konsep pengembangan kawasan oleh tiga negara: Singapura, Malaysia dan Indonesia, yang digagas semasa pemerintahan BJ Habibie. Kata “Sijori” sempat meninternasional. Namun ditunggu bertahun-tahun, konsep Sijori akhirnya tenggelam. Seiring dengan itu, “Sijori Pos” berubah nama menjadi “Batam Pos”.

Lain Dahlan, lain pula saya. Bila Dahlan mengganti nama koran karena alasan bisnis, saya usul penggantian nama koran gara-gara komentar calon mertua.

Pada 1995, untuk kali pertama saya berkenalan dengan calon mertua. Setelah memperkenalkan nama, calon mertua perempuan bertanya soal pekerjaan. “Saya kerja di Mercusuar, Palu,” jawab saya.

Mendengar kata “mercusuar”, sontak calon mertua perempuan terkejut. “Oh… tukang lampu…. Katanya wartawan Jawa Pos, kok di mercusuar….”  Perlu usaha ekstra untuk menjelaskan bahwa Mercusuar adalah nama sebuah koran di Palu. Koran itu dikelola Jawa Pos.

Dahlan tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita pengalaman saya.

Beberapa waktu kemudian, “Mercusuar” berubah nama menjadi “Radar Sulteng”.

“Apalah arti sebuah nama,” kata seorang filsuf. Walau nama tidak penting, pilihlah nama yang tepat, selagi bisa.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: