Catatan Murid Dahlan

Beranda » Yang Ringan Yang Lucu » Ketika “Perang Dingin” Membakar Jatim

Ketika “Perang Dingin” Membakar Jatim

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

 

Semangat Jawa Pos dalam penerapan sistem cetak jarak jauh tidak kalah dibanding Amerika Serikat dan Uni Sovyet (Russia) yang ingin memenangkan perang dingin.

 

Pada 1996, Jawa Pos group sudah mengaplikasikan teknologi pengiriman data yang lebih maju. Bila pada era sebelumnya masih bergantung dengan modem dan fixed line, pada era baru ini, pengiriman data sudah bisa menggunakan satelit. Selain tidak putus-putus, volume datanya juga besar-besar.

 

Dengan kemampuan teknologi baru itu, cetak jarak jauh menjadi tidak masalah lagi. Sebuah koran bisa cetak di mana saja, sepanjang areanya terlayani pancaran satelit.

 

Namun, teknologi baru ini belum bisa diterapkan karena koran belum boleh cetak jarak jauh lintas provinsi. Padahal, ada pasar besar Jawa Pos di luar Jawa Timur. Selain Kalimantan, pasar besar lainnya tidak terlalu jauh, yakni Jawa Tengah.

 

Memang mengirim koran dari Surabaya ke Jawa Tengah hanya butuh waktu empat hingga lima jam saja. Bila cetak mulai pukul 01:00, mobil jalur selatan bisa mecapai Jogja pukul 06.00. Demikian pula mobil jalur utara, mencapai Semarang pada waktu yang sama. Koran masih bisa beredar dengan baik di kota-kota sepanjang jalur. Tetapi, kota-kota sekitarnya sudah tidak bisa dilayani lagi.

 

Karena permintaan pasar yang terus meningkat, Jawa Pos memutuskan cetak jarak jauh yang tidak melanggar ketentuan. Maka, dibangunlah sebuah percetakan besar di Ngawi, berlokasi di sebidang tanah yang sangat dekat dengan batas Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 

Saat sedang ngebut-ngebutnya membangun percetakan Ngawi, mendadak pemerintah membolehkan cetak jauh lintas provinsi di mana pun di wilayah Indonesia.  Peresmian cetak jarak jauh akan dilakukan pemerintah dengan rencana ujicoba cetak di Jakarta dan Solo.

 

Karena sudah kepalang basah, Dahlan Iskan tidak mau mundur langkah. Percetakan Ngawi harus bisa dioperasikan sebelum pemerintah meresmikan ujicoba cetak jarak jauh di Solo.  Dahlan ingin meneguhkan bahwa Jawa Pos adalah yang pertama mengaplikasikan teknologi cetak jarak jauh di Indonesia.  

 

Menjadi yang pertama, sangat penting bagi Jawa Pos yang besar di Jawa Timur. Menjadi yang pertama bagi Jawa Pos, adalah simbol untuk menunjukkan semangat “orang daerah” yang tidak ingin tenggelam dari dominasi Jakarta dalam politik sentralistik Orde Baru.

 

Semangat “orang daerah” itu diimplementasikan Dahlan Iskan dengan peresmian cetak jarak jauh Jawa Pos di Ngawi untuk mengisi pasar Jawa Tengah dan Jogja, juga cetak jarak jauh di Balikpapan untuk pasar Kalimantan. Riau Pos, koran Jawa Pos Group di Pekan Baru pun melakukan cetak jarak jauh di Batam, meski Pekan Baru dan Batam masih dalam satu provinsi (waktu itu).

 

Menandai cetak jarak jauh hari pertama menggunakan satelit, semua pimpinan media Jawa Pos Group diundang ke percetakan Ngawi.  Dalam guyuran hujan yang luar biasa derasnya, pada pukul 02:00, koran pertama hasil cetak jarak jauh itu sudah bisa dinikmati.

 

Walau percetakan masih berdinding bedeng tripleks dan atap darurat dari terpal, Jawa Pos membuktikan diri sebagai koran daerah yang berhasil menerapkan cetak jarak jauh satu hari lebih cepat dari jadwal ujicoba pemerintah.

 

Malam itu, saya belajar tentang satu hal dari seorang Dahlan: daerah membutuhkan semangat untuk mengalahkan Jakarta! Tidak perlu woro-woro. Cukup dengan kerja, kerja, kerja.

 

Joko Intarto, catatan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: