Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Lebih Murah, Sama Gengsinya

Lebih Murah, Sama Gengsinya

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

 

1-2-Dad-Reading-Newspaper

 

jawa_pos_sby

 

Ketika krisis moneter menghajar kawasan Asia pada 1997, Indonesia termasuk yang termehek-mehek. Semua perusahaan yang biaya modalnya dihitung dengan dollar dan dijual rupiah terancam bangkrut.

Industri koran mengalami situasi yang sangat sulit. Utang mesinnya dollar. Harga kertasnya dollar. Jualnya rupiah. Ketika nilai rupiah melorot empat kali lipat, harga koran tidak bisa dinaikkan empat kalinya. Harga koran dulunya Rp 2.000 per eksemplar. Mana mungkin ada yang mau membeli dengan harga Rp 8.000 per eksemplar?

Satu-satunya cara adalah melakukan penghematan menyeluruh. Komponen harga yang tinggi harus dipangkas semaksimal mungkin. Maka, kertas menjadi sasaran pertama. Sebab, ongkos kertas sudah mencapai 40 persen dari struktur biaya produksi.

Menghemat kertas bisa dilakukan dengan mengurangi halaman. Tetapi ini bukan soal mudah. Pembaca yang sudah terlanjur biasa membaca koran dengan berita yang banyak dan halaman yang tebal, akan protes karena tiba-tiba korannya menipis.

Dahlan punya solusi jitu. “Halaman koran kita kecilkan,” kata Dahlan.

Sebelum krisis moneter, ukuran koran di seluruh Indonesia adalah broadsheet. Secara umum, broadsheet adalah kertas dengan lebar halaman 9 kolom. Jawa Pos kemudian mengecilkan menjadi junior broadsheet dengan ukuran 7 kolom.

Agar masyarakat tetap gengsi membaca Jawa Pos, selama sebulan berturut-turut Jawa Pos memasang iklan koran-koran ternama di seluruh dunia, yang ternyata ukurannya 7 kolom. Di sejumlah negara maju, ukuran kertas 9 kolom memang sudah ditinggalkan lama. Koran 9 kolom mengganggu penumpang lain kalau Anda membaca koran di kereta atau bus.

Setelah kampanye 1 bulan, Jawa Pos meluncur ke pasar dengan ukuran baru. Masyarakat ternyata menerima dengan antusias. Satu per satu grup Jawa Pos mulai menyesuaikan ukuran kertasnya menjadi 7 kolom.

Strategi cetak 7 kolom ternyata menjadi solusi yang win-win. Penerbit bisa berhemat. Masyarakat tetap mendapat koran sama tebalnya. Pengiklan juga membayar lebih murah 20 persen untuk memasang iklan satu halaman atau setengah halaman. Gengsinya tetap satu halaman atau setengah halaman.

Setelah 12 tahun, langkah Dahlan menerbitkan koran dengan ukuran 7 kolom mulai diikuti kompetitornya.

Jawa Pos, selalu ada yang baru.

Joko Intarto, sebuah catatan pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: