Catatan Murid Dahlan

Beranda » Yang Ringan Yang Lucu » Panglima Kerajaan Kecil dan Prajurit Kerajaan Besar

Panglima Kerajaan Kecil dan Prajurit Kerajaan Besar

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Sudah 9 bulan saya bekerja sebagai wartawan Jawa Pos, ketika Dahlan Iskan menggelar rapat besar, awal tahun 1992 atau 21 tahun lalu. Dalam rapat besar, seluruh karyawan diundang. Dari office boy sampai manager, tanpa kecuali.

“Kita akan menerbitkan sebuah koran baru di luar Jawa. Siapa berani memimpin koran ini?” tanya Dahlan. Beberapa orang senior terlihat mengacungkan tangannya.

“Koran kita yang baru, namanya Cepos. Singkatan dari Cenderawasih Pos. Lokasinya di Jayapura. Siapa berani memimpin?” tanya Dahlan lagi.

Setelah mendengar lokasinya di Jayapura, mendadak tidak ada yang mengangkat tangan. Dahlan kemudian mengulangi penawarannya. Tetap tidak ada yang menyanggupi.

Mencoba membakar nyali karyawan, Dahlan kemudian memberi nasihat tentang beberapa prinsip hidup seseorang dalam berkarir. “Ada orang yang berprinsip lebih baik hidup di kerajaan besar, walau menjadi prajurit. Ada yang memilih tinggal di kerajaan kecil, tetapi jadi panglima,” kata Dahlan.

“Biasanya, saya tidak pernah menawarkan kesempatan memimpin koran kepada karyawan. Yang ada adalah menugaskan karyawan untuk memimpin koran. Kali ini, saya mau mencoba mekanisme yang berbeda. Saya mencari yang berani mengubah nasib dari karyawan menjadi pimpinan,” lanjut Dahlan.

Menurut Dahlan, mengubah nasib dari karyawan menjadi pimpinan hanya butuh keberanian saja. Keberanian itu butuh kemauan, bukan kemampuan. “Yang penting punya kemauan. Mau tapi tidak mampu, bisa ikut kursus. Tapi mampu kalau tidak mau, harus disekolahkan di mana?” kata Dahlan.

“Jadi, siapa berani ke Jayapura?” Pada penawaran kali ini, saya dan Darul Farokhi, menyatakan siap dikirim ke Jayapura untuk mengelola koran itu.

“Karena sudah ada dua orang yang mendaftar, rapat dinyatakan selesai,” kata Dahlan.

Saya dan Darul kemudian dipanggil bergantian ke dalam ruangan untuk memberi penjelasan motivasi masing-masing. “Saya mau ke Jayapura karena sudah di Jawa Pos selama sembilan bulan,” jawab saya yang mendapat giliran pertama. “Itu jawaban orang frustasi. Tapi saya apresiasi niat Anda,” sahut Dahlan sembari tertawa.

Dahlan kemudian berpesan kepada saya untuk menjaga keberanian pergi ke luar Jawa. “Keinginan Anda ke luar Jawa akan terlaksana. Syaratnya, niatkan kepergian Anda ke luar Jawa untuk kerja keras memajukan wilayah. Bukan karena tergiur gaji pimpinan,” kata Dahlan.

Dahlan menepati janjinya setahun kemudian. Pada tahun 1993, saya ditugaskan ke Palu, Sulawesi Tengah.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: