Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Penghapus Marah Bernilai Miliaran Rupiah

Penghapus Marah Bernilai Miliaran Rupiah

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Temprina, jaringan percetakan Jawa Pos Group, yang mengendalikan 60 mesin cetak di 60 kota

Temprina, jaringan percetakan Jawa Pos Group, yang mengendalikan 60 mesin cetak di 60 kota

Namanya harian pagi, artinya koran yang terbit sekali setiap hari: setiap pagi! Tapi, sejak 1991, Jawa Pos sudah sering cetak dua kali sehari. Meski demikian, namanya tetap koran pagi. Soalnya, dua-duanya beredar pagi.

“Jawa Pos harus menyajikan yang berita paling baru. Tidak boleh kalah baru dari competitor. Bagaimana caranya? Temukan ide kreatifnya,” kata Dahlan.

Untuk merealisasikan keinginan itu, dibuatlah dua deadline berita. Tenggat pertama pukul 24:00 dan kedua pukul 02:00. Wartawan terkena jadwal piket hingga pukul 02:00. Redaktur dan layouter piket lebih lama, yakni hingga pukul 02:30. Pracetak  hingga pukul 03:00.

Yang kebagian paling sering adalah wartawan desk kriminalitas dan hukum. Sebab, tidak ada lagi berita tengah malam kecuali kecelakaan dan kejadian kriminalitas.  Saya termasuk yang sering terkena piket, karena bertugas di desk kriminalitas. Pos tetap saya, kamar mayat dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soetomo.

Meski tujuannya baik, ide cetak dua kali sehari pagi dan pagi itu banyak menuai protes. Telepon dan surat pembaca berdatangan, berisi protes. Pembaca luar kota selalu protes karena korannya tidak sama dengan yang dibacanya di Surabaya. Mereka merasa Jawa Pos tidak adil, karena menomorduakan pembaca luar kota, menganakemaskan pembaca Surabaya.

Bila hanya berita kriminalitas, dampak “kemarahan” pembaca tidak seberapa. Tetapi saat ada event sepak bola seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, protes pembaca juga luar biasa.

Padahal, secara teknis memang sungguh sulit. Dengan cetak sebanyak 450 ribu eksemplar saat itu, Jawa Pos mengoperasikan empat lini mesin yang cetak berkecepatan tinggi secara serentak, selama empat jam nonstop. Cetakan satu jam pertama untuk konsumsi luar kota, mulai kota-kota yang jauh seperti Jogja, Semarang dan Denpasar.

Cetakan jam kedua untuk kota-kota yang lebih dekat seperti Madiun, Kediri, Malang, Bojonegoro, Pamekasan, Lamongan dan Bondowoso.

Cetakan jam ketiga untuk wilayah yang lebih dekat lagi seperti Mojokerto, Gresik, Pasuruan, Sidarjo. Barulah cetakan jam keempat untuk

Untuk berita-berita yang terjadi dini hari, apa boleh buat, hanya bisa diterbitkan pada edisi dalam kota.

Umumnya, protes dilayangkan pembaca luar kota yang bekerja di Surabaya. Mereka berangkat pagi-pagi agar bisa sampai Surabaya sebelum jam kantor. Untuk mengisi waktu, mereka membeli Jawa Pos di pengecer terminal di kotanya.

Sesampai di Surabaya, mereka melihat pengasong menawarkan Jawa Pos yang “berbeda”, karena ada tulis “Jawa Pos Edisi Dua”. Sedangkan Jawa Pos yang dibawanya tidak ada tulisan itu. Beritanya pun berbeda. Pada edisi dua, hasil pertandingan Piala Dunia atau Piala Eropa sudah muncul di headline halaman utama.

Protes itu baru berakhir menjelang tahun 2000. Sebab, Jawa Pos sudah membangun percetakan di luar kota seperti Banyuwangi, Jember, Malang, Nganjuk, Solo dan Semarang. Dengan sistem cetak jarak jauh, semua percetakan menyiapkan cetak edisi satu dan edisi dua. Ternyata, perlu miliaran rupiah, agar pembaca luar kota tidak marah.

Setelah 20 tahun sendirian, langkah Jawa Pos terbit dua kali sehari barulah diikuti koran-koran lain.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: