Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Dua Doa Satu Berita

Dua Doa Satu Berita

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Dua grup sepak bola kebanggan Jawa Timur.

Dua grup sepak bola kebanggan Jawa Timur.

Semua orang tahu bagaimana gigihnya persaingan “kera Ngalam” dengan “arek Suroboyo”. Semangat warga Malang untuk tidak kalah dari Surabaya sudah terbentuk sejak lama. Mungkin  sejak zaman kerajaan Singosari.

Semangat arema atau arek Malang yang luar biasa untuk menjadi nomor satu, bisa dibuktikan dengan mudah. Lihatlah bagaimana Malang berambisi menjadi kota pendidikan mengalahkan Surabaya. Lihat pula bagaimana kuatnya niat Pemerintah Daerah Malang memiliki bandara komersial sekelas Bandara Juanda.

Jangan lupa pula, kiprah aremania dalam kancah sepak bola, bersaing dengan Persebaya.

Jawa Pos memang lahir di Surabaya. Tetapi kota Malang adalah pasar kedua Jawa Pos. Ketika “membuat berita harus memahami doa pembaca”, doa pembaca Surabaya atau Malang yang harus diutamakan?

Dilema itu begitu sulit dicarikan solusinya dalam pemberitaan Jawa Pos.

Surabaya punya “green force” alias “bajul ijo”. Malang punya Aremania. Dua-duanya militan. Dua-duanya gila bola. Dua-duanya menjadi icon sepakbola Indonesia. Dua-duanya pembaca Jawa Pos!

Contoh sederhananya begini: Persebaya bertanding melawan Arema di Surabaya, kemudian Arema menang 1 – 0. Atau sebaliknya, Arema kalah 2 – 0 melawan Persebaya di Stadion Gajayana, Malang. Bagaimana cara menulisnya agar pendukung Arema puas, pendukung Persebaya juga tidak kecewa?

Walau sama-sama membaca Jawa Pos, bukankah masing-masing punya doa sendiri-sendiri? Doa mana yang akan diikuti Jawa Pos?

Filosofi Jawa “Kalah tanpa ngasorake” yang berarti “kalah tanpa mempermalukan”, ternyata menjadi jalan keluarnya.

Kalau Persebaya kalah melawan Arema, ditulis dengan judul “Persebaya Ciamik, Gagal Bendung Arema”. Kalau Arema yang kalah, judulnya menjadi “Persebaya Menang, Arema Hebat”.

Cara menulis beritanya juga harus sama positifnya. Kesebelasan yang kalah harus terus ditulis dengan positif. Komentarnya harus memotivasi. Sementara yang menang diapresiasi, tetapi harus terkendali.

Maka, liputan sepakbola Jawa Pos tidak bisa hanya soal strategi bermain bola. Meliput pertandingan Persebaya melawan Arema, juga harus memahami doa masing-masing pendukungnya.

Jawa Pos memang identik dengan sepak bola dan kegilaan supporternya. Sulitnya, doa masing-masing suporter

berbeda.

Menulis berita sepak bola, ternyata lebih rumit dari permainannya.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


2 Komentar

  1. mang encep mengatakan:

    Berulangkali saya baca kalimat ini : “Menulis berita sepak bola, ternyata lebih rumit dari permainannya”. Kesan saya Pak JTO selain lincah mengolah kata-kata, juga ciamik bermain bola. Hmmm… luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: