Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Memahami Doa Pembaca

Memahami Doa Pembaca

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

“Pahami perasaan pembaca saat membuat berita.” Begitu nasihat Dahlan Iskan yang sering disampaikan kepada setiap wartawan. Entah sudah berapa kali saya mendengar nasihat yang sama, sejak menjadi wartawan Jawa Pos tahun 1991.

Memahami perasaan pembaca, menurut Dahlan, sangat penting bagi awak media. Pengetahuan wartawan terhadap “perasaan pembaca” mempengaruhi berita yang dibuat bisa diterima atau ditolak pasar.

Dahlan kemudian menceritakan, bagaimana Jawa Pos begitu lakunya saat Amerika Serikat menginvasi Iraq menjelang akhir dekade 90-an, yang dikenal dengan Perang Teluk I. Saat itu, Jawa Pos mencatat rekor penjualan tertinggi dalam sejarahnya, hingga 700 ribu eksemplar per hari.

Resep keberhasilan Jawa Pos itu, semata-mata, hanya karena memahami “perasaan pembaca” saja. “Perasaan orang Indonesia itu ingin agar pihak yang lemah tidak kalah dari yang kuat,” kata Dahlan. “Selama Perang Teluk, semua orang Indonesia mengungkapkan perasaan melalui doa dan harapan agar Amerika Serikat gagal menakhlukkan Iraq,” lanjut Dahlan.

Karena perasaan pembaca seperti itu, Dahlan Iskan memutuskan agar Jawa Pos memberitakan Perang Teluk I dari sisi “menghebatkan Iraq” yang lemah, bukan “menghebatkan Amerika Serikat” yang sudah hebat. Keberhasilan kecil pasukan Iraq harus diperlihatkan, karena keberhasilan itu sesuai doa dan harapan pembaca. Kemenangan Amerika Serikat diberitakan apa adanya, karena bertentangan dengan doa dan harapan pembaca.

Ketika Amerika berhasil membumihanguskan sebuah objek vital Iraq melalui pertempuran udara dan darat, Jawa Pos memilih angle sebuah helikopter Amerika Serikat yang jatuh ditembak penduduk sipil bersenjata. Jatuhnya sebuah helikopter tempur Amerika Serikat, adalah sesuai perasaan, doa dan harapan pembaca. Padahal, kerugian satu helikopter itu tidak seberapa disbanding begitu besarnya mobilisasi alat perang dan pasukan Amerika Serikat.

Sebaliknya, hancurnya fasilitas vitas Iraq oleh serangan pasukan Amerika Serikat sebenarnya sebuah kerugian amat besar bagi Iraq. Tetapi, berita kekalahan itu, sangat melukai perasaan pembaca. Begitu perasaan pembaca terluka, minat membaca Jawa Pos akan meredup.

“Petani Iraq Tembak Jatuh Heli AS” atau “Lagi, 2 Tentara AS Tewas”, bisa menjadi headline. Sementara berita “Pasukan AS Kuasai Kota”, cukup menjadi berita kedua atau ketiga.

Saat Perang Teluk I terjadi, saya mahasiswa yang punya usaha agen koran di Semarang. Ketika mulai masuk pasar Semarang, pada 1989, penjualan Jawa Pos biasa saja. Masyarakat Semarang lebih lebih menyukai koran lokal Jawa Tengah, ketimbang Jawa Pos. Tetapi ketika Perang Teluk I pecah, mendadak semua orang mencari Jawa Pos.

“Memahami doa pembaca”. Saya temukan jawaban itu, dua tahun kemudian, ketika menjadi anak buah Dahlan Iskan pada 1991.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


6 Komentar

  1. Nichoz Ahmad mengatakan:

    pertamax

  2. Djoko Sawolo mengatakan:

    Inspiratif sekali tulisannya mas Djoko Intaarto .. Lanjutkan

  3. didit ikhwan mengatakan:

    saya pertamax plus ah, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: