Catatan Murid Dahlan

Beranda » Jurnalisme Dahlan Iskan » “Rukun Iman Berita”

“Rukun Iman Berita”

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Dahlan Iskan dalam sebuah kunjungan kerja

Dahlan Iskan dalam sebuah kunjungan kerja

Harus diakui, Dahlan Iskan adalah wartawan yang cerdas. Dia cerdas memilih angle, cerdas memilih kata, cerdas pula melibatkan emosi pembaca dalam tulisannya, sehingga pembaca bisa tertawa, terharu, sedih dan marah.

Banyak orang yang menyenangi gaya penulisan Dahlan. Penuturannya, logis, mengalir, ringan, gampang dimengerti, mencerdaskan dan menghibur. Hal-hal yang berat, rumit dan teknis, tiba-tiba menjadi mudah dicerna dalam tulisan Dahlan.

Penasaran dengan gaya penulisan itu, saya beranikan diri bertanya kepada Dahlan, pada suatu kesempatan di tengah malam. Kebetulan, Dahlan sedang asyik membaca koran Jawa Pos yang baru diambilnya dari percetakan “Gaya penulisan itu packaging-nya. How to say-nya,” jawab Dahlan.

“Yang lebih penting sebenarnya adalah what to say-nya, atau rukun iman beritanya,” lanjut Dahlan.

Saya terkejut mendengar istilah “rukun iman” ada dalam dunia jurnalistik. Setidaknya,  itu merupakan istilah baru buat saya yang baru bekerja satu bulan di Jawa Pos. “Rukun iman berita, maksudnya apa Pak Bos?” tanya saya.

“Wartawan baru ya? Sudah berapa lama?” tanya Dahlan. “Satu bulan Pak,” jawab saya. “Sudah ikut training?” Lanjut Dahlan. “Sudah Pak. Satu minggu,” jawab saya.

“Jadi sekarang percobaan? Berapa lama?” tanya Dahlan. “Tiga bulan Pak Bos,” jawab saya. “Selama tiga bulan, Anda harus ngapain?” tanya Dahlan. “Liputan, menulis berita,  kemudian membawa naskah asli dan naskah yang sudah diedit redaktur ke kelas jurnalistik setiap malam,” jelas saya.

“Sudah pernah libur?” tanya Dahlan. “Belum Pak Bos. Peraturannya selama tiga bulan, tidak boleh libur, tidak boleh sakit, tidak boleh membolos, atau gugur,” jawab saya.

Dahlan tersenyum mendengar jawaban saya. “Di kelas jurnalistik, belum ada yang menjelaskan rukun iman berita?” tanya Dahlan. “Belum Pak Bos. Katanya, Pak Bos sendiri yang akan mengajar,” jawab saya.

“Oke, besok malam saya akan mengajarkan rukun iman berita,” janji Dahlan.

“Kenapa disebut rukun iman berita, Pak Bos?” tanya saya.

“Rukun iman, bagi muslim adalah sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Apapun yang terjadi, harus dipegang teguh. Demikian pula dalam menulis karya jurnalistik. Ada yang harus dipegang teguh, tidak boleh ditinggalkan,” jelas Dahlan.

Setelah menutup koran yang dibacanya, Dahlan tampak serius menjelaskan “rukun iman berita”. Entah karena melihat saya yang antusias, atau memang Dahlan senang kalau ada yang mengajak diskusi.

“Rukun pertama, tokoh. Semua peristiwa menyangkut tokoh layak berita. Misalnya Gubernur Jawa Timur masuk rumah sakit karena demam berdarah. Ini layak diberitakan,” jelas Dahlan.

“Rukun kedua, besar. Semua peristiwa yang besar layak berita. Misalnya, gempa bumi menyebabkan kerugian yang besar. Ini layak berita,” lanjutnya.

“Ketiga, dekat. Semua peristiwa yang terjadi di dekat kita, meskipun kecil layak berita dibanding peristiwa serupa yang lebih besar tetapi di tempat yang jauh. Misal, gempa di Jember korbannya 10 orang lebih layak diberitakan, ketimbang gempa di Mexico yang menelan korban 100 orang. Kalau pun keduanya perlu diberitakan, gempa di Jember harus lebih besar dan lengkap,” tambah Dahlan.

“Keempat, yang pertama. Semua peristiwa yang baru pertama terjadi, layak berita. Misal, ada pencurian dengan modus baru yang baru pertama terjadi. Walau kerugiannya kecil, peristiwa itu layak berita,” kata Dahlan.

“Kelima, human interest. Semua peristiwa yang menyentuh perasaan kemanusiaan, layak diberitakan,” lanjutnya.

“Keenam, bermisi. Setiap berita harus memiliki misi atau tujuan. Misalnya, mencerdaskan, mendidik dan memotivasi masyarakat untuk kebaikan,” pesan Dahlan.

Menurut Dahlan, semua wartawan saat meliput peristiwa harus menemukan sebanyak mungkin rukun iman berita itu. Semakin banyak rukunnya, semakin layak beritanya. Demikian pula sebaliknya.

Bila rukun iman beritanya sudah memenuhi syarat kelayakan, langkah selanjutnya adalah menulis beritanya. “Besok di kelas jurnalistik kita bahas,”  kata Dahlan. (bersambung)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: