Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Siapa Bilang Jaguar Bikin Bangga?

Siapa Bilang Jaguar Bikin Bangga?

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Jaguar milik Dahlan yang bikin tengsin

Jaguar milik Dahlan yang bikin tengsin

Setelah krisis moneter berakhir pada tahun 2000, Indonesia diserbu sejumlah pabrikan mobil mewah. Salah satunya adalah “Jaguar”. Dahlan Iskan termasuk salah satu pembeli mobil ini. “Pilih yang warna biru telur bebek,” kata Dahlan melalui pesan pendek kepada saya dan Alfian Mudjani yang mengurus pembelian mobil itu.

Setelah digunakan Dahlan di Surabaya lima tahun, Jaguar itu dikirim lagi ke Jakarta, menjadi mobil kerja Dahlan setiap datang ke Ibukota. Sehari-hari, mobil ini dirawat Yuli, satpam Jawa Pos yang pernah “menangkap” Dahlan di kantor Prapanca pada 1993.

Suatu ketika, Dahlan hendak ke Jakarta dan minta dijemput di Bandara Soekarno Hatta. Tetapi Yuli berhalangan. Sudah dua hari tidak masuk kerja karena sakit. Dahlan kemudian minta saya yang menjemput memakai Jaguar.

Sepanjang jalan menuju bandara, tak habis-habisnya saya mengagumi mobil Jaguar itu. Walau saya ikut mengurus pembeliannya, sejatinya belum pernah sekali pun saya mengemudikannya. Di dalam Jaguar, saya seperti orang katrok.

Meski mengemudi mobil sudah biasa, tetapi mengemudi Jaguar terasa berbeda. Saya lalu bertanya dalam hati, “Apa seperti ini rasanya menjadi orang kaya?”

Sejam perjalanan, sampai juga di Bandara. Masuk di loket parkir, petugas menyapa dengan ramah. “Selamat siang,” tanya petugas dengan ramah. “Siang Pak,” jawab saya.

“Tumben petugasnya ramah banget. Apa karena saya dikira pemilik Jaguar?” kata saya dalam hati dengan perasaan bangga.

“Jemput Boss, Pak?” tanya petugas loket itu.  “Eh, iya… jemput Boss,” jawab saya dengan setengah gugup.

Segera saya meluncur mencari tempat parkir sambil ngedumel. Rasa bangga duduk di belakang setir Jaguar itu lenyap sudah.

Setengah jam menunggu, akhirnya Dahlan tiba. Kami lalu meluncur ke kota Jakarta mencari makan siang. “Pak Boss, kalau nanti minta jemput saya lagi, saya jemput pakai mobil Panther saya saja ya,” kata saya. “Tidak masalah. Kalau pakai Jaguar memang kenapa?” tanya Dahlan.

Dahlan tak bisa menahan tawa, ketika saya ceritakan komentar petugas parkir bandara itu.

Ternyata, tidak mudah untuk bisa dianggap pemilik Jaguar.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: