Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Jauhi Politik. Kerja, Kerja, Kerja

Jauhi Politik. Kerja, Kerja, Kerja

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

 

Begitu rezim Soeharto jatuh, situasi politik begitu riuhnya. Partai-partai baru bermunculan. Semua orang merasa layak menjadi politisi. Hari-hari sibuk dengan obrolan politik. Dari café hotel hingga warung kopi. Semua sibuk mengincar kursi.

 

Dahlan Iskan cemas kalau fenomena ini menjalar di lingkungan kantornya. Kalau euphoria politik tidak bisa dikendalikan, karyawan bisa lupa diri. Lupa bahwa di rumahnya sudah tidak punya nasi.  

 

Sebuah kampanye kemudian dirancang Dahlan. Lahirlah jargon “Kerja, Kerja, Kerja” pada tahun 1998. Lengkapnya, “Jauhi Politik. Kerja, Kerja, Kerja”. Pesannya jelas. Jangan terus-terusan berdekatan dengan politik. Kerja, kerja dan kerja, yang akan menyelesaikan krisis ekonomi.

 

Selama dua tahun, jargon itu dipasang di halaman pertama semua koran Jawa Pos Group. Tujuannya agar spirit kerja, kerja, kerja menyebar luas di seluruh Indonesia. Semakin banyak yang sadar untuk menomorsatukan kerja, semakin cepat situasi diperbaiki.

 

Ketika Dahlan menjadi Direktur Utama PLN, jargon itu dibawanya lagi. Tapi, kalimat “Jauhi Politik” dibuang, menjadi “Kerja, Kerja, Kerja” saja. Kata Dahlan dalam beberapa kali penjelasannya, kalimat “Jauhi Politik” tidak cocok untuk PLN. Sebab, bisa berakibat kesandung masalah politik.

 

Spirit “Kerja, Kerja, Kerja” menurut Dahlan sangat sesuai diterapkan di mana saja. Sebab, hanya kerja, kerja, kerja, yang bisa mempercepat bangsa Indonesia dalam menyelesaikan persoalannya.

 

Dalam sebuah kesempatan, Dahlan menjelaskan bahwa 8 dari 10 persoalan serius Indonesia adalah kemiskinan. Nah, kemiskinan ini hanya bisa diatasi dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Kemiskinan tidak selesai dengan pidato. Kemiskinan juga tidak bisa dihibur hanya dengan menciptakan lagu.

 

Saat memimpin Kementerian BUMN, Dahlan lagi-lagi membawa jargon “Kerja, Kerja, Kerja”. Juga tetap menanggalkan kalimat “Jauhi Politik”. Bagi Dahlan, untuk membenahi BUMN yang sebagian rugi itu, caranya hanya dengan bekerja, bekerja dan bekerja.

 

Dahlan memang workaholic. Dia betah bekerja berjam-jam. Di mana saja, kapan saja, dia selalu bekerja. Sepertinya, bekerja adalah hiburan satu-satunya.

 

Saat di Jawa Pos, Dahlan punya ritme bekerja yang sulit direncanakan. Malam hari, saya masih melihat Dahlan menulis di ruang redaksi. Pukul 08.00, dia sudah berada di Makassar. Sore dia sudah di Balikpapan. Malamnya sudah di Jakarta.

 

Begitulah cara Dahlan bekerja setiap hari. Berkunjung dari satu kota ke kota lainnya, melihat langsung anak-anak perusahaan dan karyawannya. Dahlan sebenarnya mendapat laporan perusahaan setiap bulan. Tetapi dia selalu mengecek laporan itu dengan terjun langsung.

 

Setiap kunjungan, Dahlan tidak pernah mau berlama. Dia bekerja memperhitungkan waktu yang sangat terbatas, sehingga terlatih bekerja secara efektif. Kalau dia ingin mengetahui percetakan, dia tiba-tina terbang ke satu kota hanya untuk ke percetakan saja.

 

Yang repot, Dahlan datang dan pergi tanpa pemberitahuan. Lebih repot lagi, semua rencana perjalanan dikerjakannya sendiri. Tanpa ajudan. Tanpa sekretaris. Maka, kehadiran Dahlan di anak perusahaan selanjut mengejutkan.

 

Karena mobilitasnya yang sangat tinggi, Dahlan menolak disediakan ruang kerja. Ketika Jawa Pos membangun kantor baru di Karah Agung, Surabaya, Dahlan mengubah ruang kerjanya menjadi perpustakaan. Namun, dia tidak melarang direksi dan manager punya ruang kerja sendiri-sendiri.

 

Ketika kantor pusat Jawa Pos pindah ke Graha Pena yang berlantai 21, Dahlan lagi-lagi menolak ruang kerja. Tamu-tamu penting pun diterima di mana saja. Kadang di redaksi, kadang di ruang tamu lobi.

 

“Kerja, Kerja, Kerja” adalah ethos seorang Dahlan sejak dulu. Jadi, banyak yang keliru menilai jargon itu sebagai kampanye pencitraan diri mengincar kursi menteri. Lebih salah lagi kalau mengartikan semboyan itu untuk mengincar kursi yang lebih tinggi lagi.

 

Joko Intarto, sebuah pandangan pribadi

Follow me @intartojoko


5 Komentar

  1. Belajar Berbagi mengatakan:

    kamu kerja dulu sana….

  2. mang encep mengatakan:

    “Kemiskinan tidak selesai dengan pidato. Kemiskinan juga tidak bisa dihibur hanya dengan menciptakan lagu”. Jadi inget dengan syair lagu : “cangkul yang dalam menanam jagung di kebun kita”…. sekarang syairnya diubah : “gali yang dalam menanam gedung di kebun kita”… impor.. impor… impor…, beuh !

  3. misba mengatakan:

    Tapi pas di PLN, kita malah tidak boleh nglembur di kantor loh pak.
    kalau pas di JP nglembur boleh tidak pa??

    • intartosaja mengatakan:

      di JP juga tidak disarankan ngelembur. Kerja cepat, pulang tepat waktu. itu yang disarankan. Tapi, untuk redaksi, tidak ada kata lembur. jam kerja redaksi tidak diatur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: