Catatan Murid Dahlan

Beranda » Terkaget-Kaget » Pimpinan Kalah Melawan Bawahan

Pimpinan Kalah Melawan Bawahan

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Astrea Grand yang ngetop pada tahun 1991

Astrea Grand yang ngetop pada tahun 1991

Dahlan Iskan tidak bisa menyembunyikan kegusarannya, ketika melihat data “piutang karyawan” yang tinggi dalam laporan pembukuan salah satu anak perusahaannya. Ini terjadi pada evaluasi keuangan group pada 1994, atau sekitar 19 tahun lalu, di Surabaya.

Dahlan menerapkan ketentuan evaluasi keuangan setiap tiga bulan sekali. Seluruh pimpinan perusahaan dan maager keuangan harus hadir. Satu per satu perusahaan menampilkan laporan, di depan seluruh peserta. Bila ada yang “aneh” atau “tidak lazim” Dahlan akan meminta penjelasan. Peserta yang lain pun boleh menanyakan, mengkritik, bahkan membantai, untuk perbaikan.

Di tengah presentasi satu perusahaan, Dahlan terkejut dengan munculnya “piutang karyawan” yang tinggi. Manager keuangan perusahaan itu kemudian diminta Dahlan menjelaskan duduk persoalannya. Ternyata, piutang itu berasal dari unsur “pimpinan”.

Dahlan kemudian meminta seluruh anak perusahaan menampilkan data piutang karyawan. Ternyata, hanya satu perusahaan itu yang memiliki “piutang karyawan” dengan jumlah lumayan.   Berdasarkan penjelasan manager keuangan itu, Dahlan menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah, manager keuangan tidak bisa menolak permintaan pimpinan. “Tidak bisa menolak itu ada yang karena tidak berani, juga yang karena tidak tahu caranya,” kata Dahlan.

Setelah berlangsung dua hari, acara evaluasi triwulan pun selesai. Dalam penutupannya, Dahlan mengumumkan semua peserta boleh kembali ke kota masing-masing, kecuali yang berstatus manager keuangan atau yang bukan pimpinan perusahaan. “Semua manager keuangan harus tetap tinggal di sini selama satu hari lagi untuk mengikuti workshop cara manager keuangan menolak bon pimpinan,” kata Dahlan.

“Manager keuangan harus bisa menolak bon pimpinan. Kalau setelah workshop masih ada manager keuangan yang tidak bisa menolak, maka manager itu akan diganti. Kalau setelah workshop ini masih ada pimpinan yang memaksa manager keuangan agar menerima bon, maka pimpinannya akan diganti,” kata Dahlan. “Gara-gara satu kasus di satu perusahaan, semua kena,” gumam saya.

Pengumuman Dahlan mengingatkan saya pada pengalaman pribadi tahun 1992.

Suatu sore, saya masuk ke kantor naik sepeda pinjaman ibu kos. Kebetulan, motor saya Yamaha RS100 keluaran tahun 1978 sedang bermasalah, sehingga harus dibawa ke bengkel. Kebetulan, rumah ibu kos dengan kantor Jawa Pos di Karah Agung, Surabaya, hanya sekitar satu kilometer saja.

Masuk di pintu gerbang, saya berpapasan dengan Dahlan Iskan, yang tengah bercakap-cakap dengan petugas keamanan. “Sore Pak Bos,” sapa saya sambil mengayuh kereta angin itu. “Lho, Anda kok naik sepeda? Sepeda motornya mana?” tanya Dahlan. “Motor saya rusak Pak Bos. Masuk bengkel,” jawab saya.

“Kenapa tidak membeli sepeda motor yang baru saja? Kan harganya tidak terlalu mahal?” tanya Dahlan. “Syarat kreditnya susah Pak Bos. Apalagi KTP saya bukan KTP Surabaya. KTP Jawa Tengah,” jelas saya.

“Kalau kantor yang bantu, Anda sanggup membayar cicilannya?” tanya Dahlan. “Sanggup,” jawab saya mantap.

Dahlan kemudian mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu. “Berikan kepada Cik Lan sekarang,” kata Dahlan. Saya baca tulisannya begini:

Yth, Cik Lan.

Harap diproseskan pengadaan sepeda motor untuk wartawan yang membawa surat ini.

DIS

Segera saya temui Cik Lan di ruang keuangan, untuk menyerahkan surat sakti Dahlan. Nama lengkapnya adalah Lanny Kusumawati. Tapi semua memanggilnya Cik Lan. Semua urusan biaya operasional redaksi, pemasaran, periklanan, distribusi, percetakan, diurus Cik Lan.

Setelah membaca surat sakti itu, Cik Lan menanyakan sudah berapa lama bekerja di Jawa Pos dan sudah berstatus karyawan tetap atau masih kontrak. “Masa kerja 9 bulan dan belum karyawan tetap,” jawab saya.

Cik Lan, kemudian menulis di secarik kertas, kemudian dimasukkan amplop dan mengelemnya. “Tolong berikan kepada Pak Bos,” kata Cik Lan.

Tengah malam, seperti biasa, saya tidur-tiduran di dipan yang ada di ruang redaksi. Surat dari Cik Lan masih saya simpan, menunggu ketemu Dahlan.  Dipan redaksi adalah tempat paling mudah untuk bertemu Dahlan. Biasanya, seusai mengedit berita utama, Dahlan tidur-tiduran di dipan yang memuat sekitar 10 orang itu, sambil menunggu koran dicetak.

Tak lama menunggu, Dahlan pun ikut tiduran di dipan itu. Belum sempat memberi laporan, Dahlan menanyakan bagaimana jawaban Cik Lan atas suratnya. Saya sodorkan surat Cik Lan kepada Dahlan. Setelah membaca, tampak wajah Dahlan kurang gembira.

“Ternyata permintaan saya ditolak Cik Lan. Di Jawa Pos, saya pimpinan tertinggi. Tapi, urusan duit, saya tidak bisa melawan Cik Lan,” kata Dahlan.

Saya manggut-manggut, tetapi sebenarnya masih terheran-heran. “Direktur utama kok kalah sama anak buah?” tanya saya dalam hati.

Dua hari setelah penolakan Cik Lan, saya dipanggil Anas Sadaruwan, redaktur senior Jawa Pos. “Kata Pak Bos, Anda mau beli sepeda motor, tapi tidak bisa menggunakan jaminan dari kantor karena belum karyawan tetap?” tanya Anas. Saya mengiyakan.

“Saya diminta Pak Bos mencarikan jalan, yang tidak ada urusan dengan kantor. Tadi siang, saya sudah bereskan administrasi di dealer Honda Ramayana. Semua surat atas nama saya, tapi Anda yang bayar uang muka dan cicilannya. Besok motornya bisa diambil,” jelas Anas. Saya mendengarkan penjelasannya dengan perasaan gembira.

Sampai hari ini, motor bersejarah itu masih saya rawat dan berfungsi sempurna.  Walau banyak yang berminat, saya tidak ingin menjualnya. Kenangan dan sejarahnya, jauh lebih mahal dari harga pasarnya.

Joko Intarto, pengalaman pribadi

Twitter: @intartojoko


3 Komentar

  1. Djoko Sawolo mengatakan:

    oooo … iki ta foto spd motor cicilan iku Cak Joko

  2. Nugroho mengatakan:

    Saya mengerti…….saya mengerti sekarang……thanks telah berbagi. Salam kenal dan salam sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: