Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Senang itu Membalik Nasib

Senang itu Membalik Nasib

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Dahlan Iskan dalam sebuah acara

Dahlan Iskan dalam sebuah acara

Membalik nasib. Begitulah gambaran perjalanan karir Dahlan Iskan. Dari reporter majalah Tempo di Kalimantan, kemudian dipercaya membangun Jawa Pos.

Membalik nasib. Itu pula nasihat Dahlan kepada saya. Waktu itu, saya berkonsultasi karena mendapat tawaran pindah ke sebuah majalah berita mingguan terkemuka pada tahun 1992.

Perkenalan saya dengan majalah ternama itu – maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya – terjadi tidak sengaja. Waktu itu, terjadi sebuah kasus yang sangat menghebohkan.

Seorang wanita muda ditemukan tewas. Belakangan, wanita itu dikenali sebagai buruh pabrik jam tangan di Sidoarjo, bernama Marsinah.

Semua media ingin sekali mewawancarai tersangka pelakunya. Tetapi prosedur dan situasi politik saat itu tidak memungkinkan untuk mendapat akses. Jalan buntu. Lewat pintu mana saja, tertutup.

Mendadak, seorang sahabat lama yang baik hati, memberi jalan. Lewat dialah, saya bisa bertemu istri pemilik pabrik jam tangan yang jadi tersangka itu. Mohon maaf juga, nama teman baik itu, tidak bisa saya ungkapkan. Yang pasti, sahabat itu punya akun facebook dalam grup Dahlan Iskan.

Keberhasilan saya mewawancarai istri tersangka, membawa saya berkenalan dengan seorang wartawan senior majalah berita nasional terbitan Jakarta. Dia datang ke kantor Jawa Pos menemui saya untuk menawarkan peluang bergabung sebagai reporter majalahnya.

Terus terang, saya bimbang. Gajinya dua kali lipat dari yang saya terima. Padahal yang saya terima sudah bagus. Berarti, tawarannya dua kali lebih bagus.

Bingung memutuskan, saya temui Dahlan. Saya ceritakan soal tawaran majalah itu apa adanya. Setelah diam beberapa saat, Dahlan kemudian memberi nasihat. “Sukses bisa di mana saja. Di sini atau di sana, semua sama,” kata Dahlan mengawali nasihatnya.

“Bagaimana mencapai sukses sebagai karyawan?” tanya saya. “Membalik nasib. Itu yang harus Anda lakukan,” kata Dahlan.

“Ketika Anda melamar kerja di perusahaan ini, artinya Anda yang butuh pekerjaan. Setelah Anda diterima, Anda harus mengubah agar perusahaan butuh Anda,” jelas Dahlan. Saya manggut-manggut. Tetapi sebenarnya saya juga tidak paham benar maksudnya.

“Jadilah karyawan yang tak tergantikan. Maka, nilai Anda akan tinggi. Kalau biasa-biasa saja, nilai tawar Anda juga rendah,” kata Dahlan. “Jadi, tawaran itu saya terima atau saya tolak saja?” tanya saya. “Terserah Anda. Boleh diterima, boleh juga ditolak. Pertanyaan saya satu, Anda di sini merasa senang apa tidak?” tanya Dahlan.“Oh, senang sekali,” jawab saya.

“Bekerja itu, yang pertama harus punya perasaan senang. Dengan perasaan itu, Anda pasti bisa berprestasi. Dengan berprestasi, perusahaan akan butuh Anda. Itu jalan mengubah nasib,” kata Dahlan.

Seminggu setelah pertemuan itu, saya berpapasan dengan Dahlan di lobi kantor. “Lho, Anda kok belum pindah ke majalah itu?” tanya Dahlan. “Saya pilih di tempat yang membuat saya merasa senang,” jawab saya.

Dahlan hanya tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


8 Komentar

  1. dengan bekerja dengan nyaman, akan menjadikan tempat kerja sbg rumah ke dua loh pak JTO

  2. marson mengatakan:

    Benar keputusan anda mas Joko, gaji bukan segala galanya, suasana kerja juga merupakan ukuran mengapa orang betah bekerja di sebuah perusahaan. Saya pernah berpindah pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya sekitar tahun 93-2000 an, hanya satu yg berkesan, tapi kesannya bukan dari boss perusahaan tapi dari rekan2 kerja. Anda termasuk yg beruntung dan tepat mengambil keputusan. Bravo!

  3. cinta_icha mengatakan:

    Kalau kerja dg gaji tinggi tapi sangat tdk nyaman ditempat kerja atau usaha sendiri tapi mungkin hasilnya tdk sebesar gaji yg didapat, pilih yg mana pak

  4. qohar69 mengatakan:

    Pelajaran yang menarik.. ..Prinsip yang harus diikuti oleh setiap insan yang mau sukses. Prinsip ini rupanya yang membuat Dahlan Iskan menggila dalam kerja. Mari kerja keras untuk menciptakan prestasi, menciptakan keunggulan personal yang akan berujung terbaliknya nasib dari membutuhkan pekerjaan menjadi pekerjaanlah yang membutuhkan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: