Catatan Murid Dahlan

Beranda » Jurnalisme Dahlan Iskan » Berita “Gaya Saya”

Berita “Gaya Saya”

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Sebenarnya ini kasus kecil dan sangat pribadi. Sebuah kisah tentang wanita berinisial ST yang ingin tampil cantik dan awet muda, pada tahun 1992.

ST, pengusaha salon kecantikan di Surabaya, melaporkan seorang ahli bedah plastik ke polisi. Gara-garanya, cairan yang ditanam di jidatnya bocor. Bukannya jadi tambah cantik, tapi wajahnya malah jadi rusak. Belakangan, diketahui bahwa ahli bedah plastik itu dokter gadungan!

Karena minimnya informasi dari kepolisian, berita hanya diturunkan dalam ukuran mini. Itu pun dibuat dengan gaya berita lucu. Eh, setelah terbit, Dahlan Iskan memerintahkan agar dilakukan blow up berita itu dalam laporan khusus.

“Sebelum deadline harus sudah dapat wawancara dan fotonya. Bagaimana pun caranya,” perintah Dahlan melalui radio panggil atau pager.

Radio pager adalah alat komunikasi yang sangat gaya sebelum hadirnya handphone. Bentuknya kotak seukuran bungkus rokok. Bisa menerima pesan text seperti SMS. Tetapi cara mengirim text harus melalui operator radio panggil itu. Starko adalah merek yang paling terkenal.

Setelah menerima pesan Dahlan, saya pun membatalkan jadwal libur mingguan. Setelah berputar-putar mencari sumber berita yang bisa memberi informasi, dapatlah sebuah titik terang: dia punya salon di kawasan pertokoan di Surabaya Barat.

Sampai di kompleks pertokoan, waktu sudah lepas magrib. Celakanya, ada dua salon di kompleks itu. Hampir berdempet pula lokasinya.

Agar tidak dicurigai, saya pura-pura potong rambut. Rambut gondrong sebahu terpaksa saya potong. “Potong model apa mas?” tanya petugas salon.

Saya bingung menjawab pertanyaan sederhana itu. Jujur, seumur-umur belum pernah potong di salon. Biasanya potong di tukang cukur keliling saja. “Tomorrow never die,” jawab saya.

“Model apa itu Mas?” tanya petugas salon. “Itu lho kayak James Bond,” jawab saya.

Selama potong rambut, petugas itu saya ajak ngobrol soal pengusaha salon yang lapor polisi. Sayangnya, sampai selesai potong rambut, jawaban yang saya tunggu-tunggu tidak dapat juga.

Keluar dari salon pertama,  saya harus mendapat akal agar tidak gagal. Apalagi, waktu sudah semakin mendekati deadline.

Saat sedang putar otak di depan salon kedua, ada seorang pria penjaga toko buah pinjam korek api. Rupanya dia mau merokok tetapi tidak punya korek.

Langkah pertama yang saya lakukan sambil menyodorkan korek adalah “sok akrab”, seakan-akan kawan lama yang tidak pernah bertemu. “Lho Mas Iqbal kerja di sini?” tanya saya pura-pura kenal. Saya tahu namanya, karena ada name tag di bajunya.

Saya beri salam seperti itu, Iqbal gak kalah aksi. “Iya. Sampeyan sekarang kerja di mana?” tanya Iqbal.

“Kerja di supplier peralatan salon,” jawab saya. “Mau menawarkan peralatan salon baru, malah bos-bos salon ini tidak ada semua,” jawab saya.

“Bos yang salon itu baru pulang. Tadi beli buah di toko saya. Kalau bos salon yang satunya lagi ngumpet gara-gara jadi berita di ‘Jawa Pos’ tadi pagi. Seharian tidak masuk,” jelas Iqbal.

Jawaban Iqbal seakan saya mendapat durian runtuh. “Memang sampeyan kenal juga?” pancing saya.

“Kenal. Saya pernah ikut bos saya diundang syukuran waktu pindahan ke rumah baru di perumahan Darmo Permai,” jelas Iqbal. “Tapi saya lupa di mananya. Sampeyan tunggu saja salonnya sampai tutup. Ada beberapa karyawan yang nanti dijemput ojek ke rumah bosnya,” kata Iqbal.

Yakin dengan informasi Iqbal, saya bergegas masuk salon kedua. “Mau potong rambut mbak,” kata saya. “Kayaknya baru saja potong kok mau potong lagi?” tanya petugas salon itu. “Saya mau cukur gundul,” jawab saya.

Sambil dicukur gundul, saya ngobrol dengan petugas salon. “Boss kok tidak kelihatan?” pancing saya. “Memang sampeyan kenal?” jawab petugas itu dengan nada bertanya. “Kenal dong. Kan saya salah satu supplier peralatan salon ini,” jawab saya dengan percaya diri.

“Kok nggak ke rumah saja,” jelas petugas itu. “Oh iya, biasanya juga begitu. Tapi sudah hari ini janjiannya di sini,” jawab saya.

“Bos hari ini tidak masuk. Gara-gara ada beritanya di koran,” jawab dia.

“Kalau begitu saya habis ini ke rumahnya sajalah. Ada barengan nggak? Saya sudah agak lupa alamatnya kalau malam,” jawab saya.

“Bareng saya saja. Saya dijemput ojek. Nanti iring-iringan,” kata petugas itu.

Selesai cukur gundul, jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00. Salon tutup. Satu per satu karyawannya pulang. Dua orang di antaranya pulang dengan ojek langganan menuju rumah ST. Saya mengikuti di belakangnya dengan sepeda motor.

Tiba di rumah tujuan, saya nyelonong ke kursi teras. Petugas salon yang baik hati itu masuk ke dalam dan melaporkan kedatangan saya. Semenit, dua menit, setengah jam, satu jam, petugas itu tidak muncul. Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 22.30. Saya mulai gelisah karena satu jam lagi sudah deadline berita.

Saya pencet bel beberapa kali. Tidak ada yang membuka pintu. Tiba-tiba pager saya berbunyi. Dahlan mengirim pesan. “Beritanya ditunggu sampai pukul 00:00. Harus dapat foto saat wajahnya,” kata Dahlan.

Akhirnya, pengusaha yang saya cari-cari itu akhirnya keluar dengan muka kesal dan marah. Wajahnya diplester. Tapi kelihatan bengkak hingga ke hidungnya. “Saya minta Anda pulang atau saya lapor polisi!” kata ST dengan nada tinggi.

“Saya tidak akan pulang kalau Ibu belum mendengar penjelasan ini,” jawab saya.

Sienny terdiam beberapa saat. “Oke, saya kasih waktu menjelaskan lima menit. Silakan duduk di ruang tamu,” jawab Sienny.

“Begini. Dalam pemberitaan Jawa Pos, ibu adalah korban. Saya mau sampaikan kepada ibu bahwa dokter itu ternyata dokter gadungan. Ijazahnya palsu. Sudah dicek di universitas di Tiongkok. Tidak ada alumni dengan nama itu,” jelas saya.

Mendengar penjelasan itu, Sienny mendadak tertarik. “Bener dia dokter gadungan?” tanya Sienny. “Bener. Saya sudah dapat penjelasan dari sumber terpercaya,” jawab saya.

Setelah mendapat cukup banyak bahan, tugas terakhir adalah mencari foto. Tugas ini tidak mudah karena dia tidak mau meminjamkan foto atau membolehkan saya memotret. “Boleh saya minta minum?” tanya saya. “Mau teh atau kopi atau air putih?” tanya ST. “Teh panas saja,” jawab saya.

Teh panas saya pilih, agar cukup lama menyiapkannya. Selama dia menyiapkan teh panas, sebuah foto diri Sienny berukuan ukuran 100 centimeter x 60 centimeter yang tergantung di dinding langsung saya repro. Itulah satu-satunya foto yang berhasil saya dapatkan.

Repro selesai, Sienny keluar membawa dua cangkir teh panas. Setelah minum seteguk, saya pamit pulang. Saya janji datang lagi besok pagi membawakan koran terbaru hasil wawancara itu.

Sampai di kantor, deadline tinggal 20 menit lagi. Bagaimana menulis bahan yang banyak secepat itu? “Bikin dengan gaya saya,” kata Dahlan.

“Saya punya gaya menulis sendiri. Pak Boss punya gaya menulis sendiri. Mana bisa saya meniru gaya tulisan Pak Boss?” tanya saya.

“Gaya saya itu, menulis apa adanya yang sampaikan narasumber. Jangan Anda ubah menjadi gaya penuturan Anda. Biar natural,” jelas Dahlan.

Malam itu, saya mendapat ilmu baru dalam gaya penulisan berita. Yakni “gaya saya”. Semua informasi ditulis seakan-akan narasumber yang menulis sendiri. Natural dan cepat!

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko


2 Komentar

  1. nuryadid mengatakan:

    Wah, matanbbb nih ceritanya.

    Beti ama cerita detektip/spionase di film-film hollywood, hehehe. Cara ngobrol ama tukang buah, tukang salon, totalitas cukur 2 kali, dll.

    Jadi wartawan kudu cerdas kali ya, harus bisa menyamar, mencari sumber dan mendapat deadline.

  2. Affandi Kartodihardjo mengatakan:

    Untung cuma ada salon ya mas. Jadi nyarinya klo enggak yang ini pasti yang itu. Di salon pertama, potong dari gondrong ke gaya James Bond, terus di salon kedua, digundulin. Kalau ada tiga salon, di tempat yang ketiga itu mau potong model apa lagi Mas Joke In

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: