Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Jatuh Bangun Karena Provokasi Dahlan Iskan

Jatuh Bangun Karena Provokasi Dahlan Iskan

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Saya dan Dahlan Iskan, provokator bisnis yang sekarang menjadi Menteri BUMN
Menggapai puncak karir adalah mimpi semua karyawan. Tapi ketika puncak karir itu sudah di tangan, rasa senang dan bangga itu mendadak sirna. Episode selanjutnya justru penuh dengan keragu-raguan dan ketakutan.

Suatu senja pada tahun 1993. Saya baru mulai menulis liputan di kantor biro Jakarta, saat CEO ‘’Jawa Pos’’ Dahlan Iskan menelepon dari Surabaya. ‘‘Anda masih berminat ke luar Jawa?’‘ tanya Dahlan. ‘‘Masih Bos,’‘ jawab saya tegas.

Jawaban dua kata itu ternyata panjang dampaknya. Jawaban pendek itu seketika mengubah jalan hidup saya, dari seorang reporter menjadi pemimpin perusahaan.  ‘‘Oke. Anda akan ditugaskan memimpin koran Mercusuar di Palu, Sulawesi Tengah,’‘ kata Dahlan, ketika bertemu saya beberapa jam kemudian.

‘‘Apa yang akan Anda lakukan untuk membesarkan koran itu?’‘ tanya Dahlan, dalam rapat besar di kantor lama di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan.

Menjawab pertanyaan itu, saya segera mengemukakan rencana pembenahan manajemen redaksinya. Persis seperti nasihat Dahlan yang sering saya dengar langsung. ‘‘Koran gagal atau sukses itu, nomor satu ditentukan kualitas redaksinya. Nomor dua karena redaksinya. Nomor tiga karena redaksinya. Nomor 27 karena pemasaran korannya. Nomor 28 karena pemasaran iklannya.’‘

Nasihat itu begitu membekas dalam ingatan saya. Karena itu, sebagai reporter, saya berusaha untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik dengan jumlah yang cukup dan diserahkan tepat waktu. Bukankah penyebab keberhasilan dan kegagalan koran nomor 1 sampai 26 karena redaksinya?

‘‘Sudah berapa lama bekerja sebagai wartawan Jawa Pos?’‘ tanya Dahlan. ‘‘Dua tahun, Pak Boss,’‘ jawab saya.

‘‘Sudah pernah mendapat penghargaan dari perusahaan?’‘ lanjut Dahlan. ‘‘Sudah Pak Boss. Saya dua tahun mendapat hadiah tour ke luar negeri,’‘ jawab saya.

Setahun setelah bekerja, saya memang mendapat hadiah liburan ke ke Singapura selama empat hari. Tahun berikutnya saya mendapat hadiah lebih jauh dan lama, jalan-jalan ke Amerika Serikat selama tiga minggu berkeliling dari Hawai hingga Texas dan menikmati festival bunga terbesar di dunia di Pasadena.

‘‘Modal sebagai wartawan berprestasi saja tidak cukup untuk mengelola sebuah perusahaan media. Koran tidak akan hebat hanya karena redaksinya hebat. Redaksi hebat tidak ada artinya kalau pemasarannya tidak hebat. Tim percetakannya hebat. Tim distribusinya hebat. Tim keuangannya hebat. Itu semua akan menjadi tanggung jawab Anda,’‘ kata Dahlan.

Deg! Kegembiraan saya mendadak sirna. Perlahan tapi pasti, bayangan enaknya menjadi pimpinan itu pun lenyap. Keragu-raguan untuk bisa mengelola perusahaan sebagaimana yang diharapkan Dahlan, mulai mengganggu. Keraguan itu berpuncak pada rasa takut yang berkepanjangan!

Bagaimana mengelola percetakan? Bagaimana mengelola distribusi? Bagaimana mengelola pemasaran? Bagaimana mengatasi kesulitan keuangan? Bagaimana kalau bangkrut? Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya tanpa bisa dihentikan.

Dahlan rupanya pandai membaca perasaan. ‘‘Bagaimana? Anda mau berubah pikiran?’‘ tanya Dahlan sambil tertawa.

Bayangan menjadi general manager dengan tanggung jawabnya yang sangat besar itu benar-benar menakutkan.  Sebagai general manager saya harus mengelola seluruh urusan perusahaan. Dari yang remeh-temeh hingga yang berat-berat.

‘‘Mampukah saya? Ambil atau tidak? Jadi reporter saja. Malu ah, tadinya bersemangat kok sekarang takut?’‘ Beragam suara itu seakan terdengar di telinga saya sahut-menyahut.

‘‘Perlu keberanian untuk mengambil keputusan. Hanya orang-orang yang berani yang berhasil mengubah nasibnya,’‘ lanjut Dahlan, membuka komunikasi yang sempat terhenti.

‘‘Kalau saya menjadi Anda, saya akan konsisten. Kesempatan baik belum tentu datang dua kali. Kalau pun kesempatan baik datang lagi, belum tentu tahun depan. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi,’‘ ujar Dahlan.

‘‘Tapi saya benar-benar belum punya pengalaman mengelola perusahaan penerbitan koran. Saya baru bisa mengelola informasi menjadi berita,’‘ sahut saya.

‘‘Saya tunggu Anda di Surabaya besok pagi. Uang operasional selama tiga bulan sudah disiapkan. Berangkatlah ke Manado untuk belajar bagaimana mengelola perusahaan koran,’‘ kata Dahlan menutup pembicaraan.

‘‘Bagaimana kalau bangkrut?’‘ tanya saya sebelum Dahlan meninggalkan ruangan. ‘‘Bangkrut tidak apa-apa. Yang penting bukan bangkrut karena dikorupsi. Anggap saja kerugian itu sebagai biaya kursus manajemen,’‘ jawab Dahlan sambil berlalu.

Meski jawaban terakhir ini sangat membesarkan hati, namun tidak sanggup membuang rasa takut yang terlanjut menjadi-jadi. Dalam kegalauan dan rasa kantuk menjelang tengah malam, mendadak terbayang ibu saya yang tinggal di kota kecil, Purwodadi, Jawa Tengah.

Dalam bayangan itu, ibu saya sangat senang mendengar rencana kepindahan saya ke Palu. Saya melihat ekspresi ibu saya itu berbeda dibanding waktu saya kabarkan tawaran dari kampus saya, Universitas Diponegoro, untuk menjadi dosen di Universitas Cendrawasih, di Jayapura, pada 1991.

Adzan subuh yang terdengar sayup-sayup dari masjid di seberang mess membangunkan saya dari tidur malam. Seusai salat, saya segera berkemas. Niat sudah bulat. Cara membalik nasib adalah berangkat ke Palu tanpa ragu. Provokasi Dahlan itu yang membuat saya bertahan di Palu selama enam tahun menghadapi berbagai kesulitan dan jatuh-bangun.

Sebuah pengalaman pribadi

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Bisnis Media

Follow me @IntartoJoko

Catatan:

Ini merupakan seri pertama dari tiga tulisan yang saya siapkan untuk memperingati ulang tahun ke-12 Harian Radar Sulteng.


1 Komentar

  1. msodikvip mengatakan:

    ‘‘Perlu keberanian untuk mengambil
    keputusan. Hanya orang-orang yang
    berani yang berhasil mengubah
    nasibnya”.
    Mantaps

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: