Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Bayangan Sulitnya Seperti Makan Kaledo

Bayangan Sulitnya Seperti Makan Kaledo

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Butuh pisau dan sumpit untuk makan Kaledo, masakan khas Kota Palu.

Hari-hari sebelum berangkat ke Palu (1993) merupakan masa yang paling membosankan. Sepanjang pagi hingga sore hanya duduk di ruang keuangan Jawa Pos untuk belajar menyusun, membaca dan menganalisa laporan keuangan saja.

Istilah-istilah teknis seperti ROI, ROA, EBIT, EBITDA, dan masih banyak lagi yang harus saya pahami dalam waktu cepat. Sementara pengetahuan akuntasi saya boleh dibilang sangat rendah.

Untungnya, saat kuliah (1986 – 1991) saya pernah mengelola agen koran dan majalah. Memang skalanya kecil. Hanya melayani sekitar 350 pelanggan saja. Lopernya pun cuma empat orang.  Pembukuan keuangannya juga tidak rumit. Meski demikian, pengalaman itu cukup membantu saya dalam memahami logika akuntasi.

Pagi sampai siang belajar keuangan. Sore hingga malam belajar manajemen redaksi mulai membuat perencanaan berita hingga manajemen deadline. Tengah malam belajar manajemen pracetak dan percetakan. Menjelang subuh hingga pagi belajar distribusi dan pemasaran koran.

Tiga hari belajar proses industri koran sebenarnya belum cukup. Baru bisa paham kulitnya saja. Tapi perjalanan ke Manado tidak bisa ditunda. Karena dalam waktu seminggu sudah harus tiba di Palu, berarti sisa waktu belajar di Manado hanya empat hari saja.

‘’Jangan pergi dari Palu sebelum tiga bulan. Jangan pulang ke Surabaya sebelum tiga bulan. Jangan telepon saya sebelum tiga bulan. Apapun masalah yang Anda hadapi, selesaikan sendiri. Jangan minta bantuan saya atau kantor Surabaya,’’ pesan Dahlan Iskan ketika saya berpamitan.

Tiba di Manado, mulailah saya mengenal dunia penerbitan koran di luar Jawa yang sebenarnya. Penerbitan dengan fasilitas dan skill karyawan yang jauh dari memadai, tetapi dengan tuntutan hasil kerja yang sama baiknya dengan perusahaan koran di Jawa.

Empat hari saya belajar bagaimana sulitnya menagih piutang koran di agen-agen. Belajar bagaimana mengantisipasi agar mesin cetak yang rusak bisa diperbaiki dengan segera di pagi buta. Belajar bagaimana sulitnya mengirim koran tepat waktu karena sarana transportasi yang amat terbatas. Belajar bagaimana menghadapi situasi sosial yang tidak semuanya siap dengan perubahan.

‘’Waktu belajar sudah habis. Pagi ini Anda harus berangkat ke Palu,’’ kata Imawan Mashuri, pimpinan ‘’Manado Pos’’ saat itu.

Seusai sarapan nasi kuning di warung dekat kantor, saya berangkat ke Bandara Sam Ratulangi menuju Palu diantar Hendro Boroma, wartawan muda berbakat, yang sekarang CEO Manado Post Group. Bayangan kota Palu segera memenuhi kepala saya, begitu memasuki pesawat Bouraq.

Tri Putra Toana adalah orang pertama yang saya temui begitu tiba di bandara Palu. Pak Tri, begitu biasa dipanggil, adalah anak Rusdi Toana, tokoh pendidik dan Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, yang juga pendiri koran ‘’Mercusuar’’.  Pak Tri adalah satu-satunya anak Pak Rusdi yang tertarik dengan bisnis media.

Pak Tri ternyata ditemani Suardi, redaktur senior ‘’Mercusuar’’. Suardi ini sudah saya kenal sebelumnya, karena pernah bertemu di kantor ‘’Jawa Pos’’ Surabaya saat menjadi tim penerbitan ‘’Jawa Pos’’ edisi Arab Saudi pada musim haji tahun 1992.

Bertiga kami meninggalkan bandara menuju sebuah rumah makan untuk menikmati makan siang dengan menu khas Palu, yakni kaledo. Inilah makanan unik yang terbuat dari tulang sapi dan singkong rebus. Dari tulang itu, yang bisa dimakan hanya tulang muda dan sisa daging yang menempel di tulang itu.

Satu-satunya bagian yang terlezat dari kaledo adalah sumsum yang harus diambil dari potongan tulang itu dengan pisau besar dan sumpit. Perlu tenaga dan keahlian ekstra untuk menikmatinya.  ‘’Anda bisa mengenal karakter pasar dan masyarakat Palu dengan makan kaledo,’’ kata Pak Tri dengan nada bercanda.

Walau disampaikan dengan bercanda, sulitnya menikmati kaledo ternyata betul-betul menggambarkan sulitnya mengelola koran ‘’Mercusuar’’ hingga enam tahun kemudian. Sebuah kemiripan yang tidak disengaja.

Sebuah pengalaman pribadi

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Artikel ini merupakan seri kedua dari tiga tulisan yang saya siapkan untuk memperingati ulang tahun ke-12 Radar Sulteng

sumber foto: http://www.indiramalik.com

 


4 Komentar

  1. intartosaja mengatakan:

    terima kasih ternyata yang membaca artikel ini sudah lebih dari 1.200 orang. Semoga manfaat.

  2. Kuncoro Y. mengatakan:

    Saya mau dengar sharing2 yg lain pak mengenai bagaimana membagun bisnis media dari nol. Thank’s atas sharing2 sebelumnya…:)

  3. msodikvip mengatakan:

    Sangat inspiratif.
    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: