Catatan Murid Dahlan

Beranda » Akal Sehat Dahlan Iskan » Untuk Apa ”Jawa Pos” Terbit 100 Halaman?

Untuk Apa ”Jawa Pos” Terbit 100 Halaman?

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Terbit 44 halaman sudah cerita lama. Terbit 62 halaman sudah biasa. Tapi terbit 100 halaman, itu memang istimewa.

Hari ini, Jumat (25/10) koran Jawa Pos mengejutkan pembacanya karena terbit supertebal: 100 halaman! “Masa Depan di Tangan Pemuda” menjadi tema besar yang diusung induk jaringan 207 koran lokal dan 42 stasiun TV lokal di seluruh Indonesia itu.

Beberapa teman saya mengirim pertanyaan, mengapa ‘‘Jawa Pos’’ harus terbit dengan halaman setebal itu? Apakah tidak rugi, karena bandrolnya tetap Rp 3.500 per eksemplar? Apakah pengasong tidak “ngos-ngosan” karena membopong koran lebih berat, untuk jumlah eksemplar lebih sedikit?

Sebenarnya saya ingin menjawab bahwa saya tidak tahu persis alasan manajemen ‘‘Jawa Pos’’ menerbitkan koran dengan tebal 2,5 kali dibanding biasanya. Tapi, jawaban itu pasti kurang menyenangkan teman-teman saya.

Maka, saya coba menjawab dengan alasan yang saya kuasai, sebagai praktisi komunikasi. “Itu strategi agar orang mengingat kembali brand ‘Jawa Pos’. Brand yang sudah dibangun sejak terbit perdana 1 Juli 1948 dan dimudakan kembali oleh Dahlan Iskan pada 1982,” jawab saya.

“Bukankah koran ‘Jawa Pos’ sudah terkenal?” tanya seorang teman, seakan kurang puas dengan jawaban pendek saya.

“Brand yang sudah terkenal pun tetap harus melakukan komunikasi agar terus diingat oleh publik,” jelas saya.

Reminder! Itulah yang dilakukan ‘‘Jawa Pos’’ hari ini. Dengan terbit 100 halaman, ‘‘Jawa Pos’’ berharap publik akan bertanya dan membicarakan ‘‘Jawa Pos’’ lagi.

Rumpian soal ‘‘Jawa Pos’’ diharapkan tidak hanya terjadi di kalangan pembaca tradisionalnya, tetapi juga pada pembaca mudanya yang melek internet.

Pamor media digital dalam beberapa tahun belakangan ini memang luar biasa. Media digital dengan keunikannya, telah menggeser posisinya dari media alternatif menuju mainstream.

Media digital kini diandalkan berbagai pihak untuk mengelola isu-isu strategis dari bidang pemasaran hingga politik. Pengaruh media digital sering kali merepotkan berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah.

Media digital sepeti telah berhasil menjadikan konsumennya asyik di “wilayahnya” sendiri meninggalkan media konvensional seperti media cetak, radio dan televisi. ‘‘Jawa Pos’’ sebagai media konvensional terbesar di Indonesia saat ini, tentu tidak ingin ditinggalkan dalam “rumpian” masyarakat digital.

Karena itu, ‘‘Jawa Pos’’ terbit 100 halaman, justru bukan pada saat berulang tahun. ‘‘Jawa Pos’’ memilih momen Sumpah Pemuda sebagai kesempatan untuk masuk ke kehidupan generasi digital agar mereka tahu bahwa ‘‘Jawa Pos’’ hari ini, berbeda dengan ‘‘Jawa Pos’’ masa lalu.

Di masa lalu, ‘‘Jawa Pos’’ pernah menjadi buah bibir masyarakat luas, karena ‘‘Jawa Pos’’ menjadi pendukung utama berbagai aktivitas penggemar Persebaya yang terkenal dengan nama “bonek” alias “bondo nekat”.

Puncaknya, ‘‘Jawa Pos’’ mengorganisir puluhan ribu “bonek” dari Surabaya menuju Jakarta untuk merebut juara liga melawan Persija. Konvoi ratusan bus dan puluhan gerbong kereta api itu dikenal dengan sebutan “tret-tet-tet”. “Bonek” dan “tret-tet-tet” adalah dua kata yang melegenda, setidaknya di Surabaya.

Kali ini, ‘‘Jawa Pos’’ mencoba jurus lain. Bukan “bonek”, juga bukan “tret-tet-tet”, melainkan terbit 100 halaman. Berhasilkan? Menurut saya berhasil. Buktinya, Anda membaca artikel ini.

Joko Intarto @IntartoJoko

Wartawan dan praktisi komunikasi


2 Komentar

  1. Kuncoro Y. mengatakan:

    Asumsi anda tak salah pak…:) Saya tunggu sharing2 anda selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: