Catatan Murid Dahlan

Beranda » Artikel Baru » Hantu Pohon di Era Jurnalisme Digital

Hantu Pohon di Era Jurnalisme Digital

intartosaja@gmail.com

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

 

Semula saya tidak optimistis. Karena itu, saya hanya melakukannya dengan ‘’coba-coba’’. Ambil paket hemat saja. Karena hanya ingin membuat analisa.

Dengan biaya hanya USD 50, saya ingin menjangkau 50 ribu orang. Tidak masuk akal? Biar saja. Namanya juga coba-coba!

Tapi demikianlah faktanya. Artikel yang saya posting itu difacebook itu setelah ‘’boosting’’ dengan dana sekitar Rp 500 ribu, dibaca lebih dari 160 ribu orang.

Lebih dari 3 ribu orang di antaranya memberi komentar dan menyatakan ‘’suka’’. Lebih dari 300 orang dengan sukarela menyebarkan artikel itu kepada jejaringnya. Lebih dari 500 orang menjadi member baru.

Murah? Tentu saja sangat murah. Hitung saja, berapa biaya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada setiap pembaca. Belum lagi ‘’bonus’’ berupa keterlibatan ribuan pembaca untuk berdiskusi melalui forum komentar dan tanda suka dan menyebarkannya. Itu pun masih ditambah lagi dengan masuknya member baru.

Artikel saya di ‘’Kompasiana’’ pun kecipratan tuahnya. Jumlah pembaca ikut bertambah. Jumlah teman saya juga meningkat. Artikel saya sekarang sudah ada yang dibaca 2.400 orang. Angka itu masih terlalu sedikit, tetapi sudah cukup menyenangkan saya.

Ahmad Zaini, partner saya dalam menggarap strategi komunikasi media sosial, menyimpulkan bahwa dari sisi keberhasilan berkomunikasi, artikel saya itu tergolong sangat berhasil. Sebab, responnya tiga kali lipat dibanding data rata-rata. Mengapa bisa begitu? ‘’Tema dan teknik penulisannya,’’ jawab Zaini.

Benarkah? Tanpa bermaksud memuji artikel itu, saya tuliskan hasil analisa dari sisi jurnalistik setelah mendiskusikan lebih dari satu jam bersama Zaini.

TEMA HARUS AKTUAL

Tujuan penerbitan artikel saya adalah mengingatkan pembaca untuk ‘’menghargai waktu’’. Menurut saya, misi ini penting agar ‘’jam karet’’ tidak menjadi hal biasa di masyarakat. Menghargai waktu merupakan tema yang aktual karena mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan itu menemukan momentumnya pada saat ada tokoh membatalkan diri sebagai pembicara seminar di Semarang. Harusnya tokoh itu menjadi pembicara pukul 08.00 pagi. Namun hingga 30 menit kemudian, seminar yang digagas IAIN Walisongo itu belum juga dimulai. Tokoh itu kemudian pamit untuk meneruskan agenda berikutnya di kampus Universitas Diponegoro.

GUNAKAN RUKUN IMAN BERITA

Ketertarikan pembaca tidak harus menyangkut hal-hal yang luar biasa. Nyatanya, tema ‘’menghargai waktu’’ yang sederhana pun bisa menarik begitu banyak orang untuk membacanya.

Rahasianya ada pada ‘’rukun iman berita’’. Peristiwa kecil itu menjadi disukai karena dinilai memenuhi dua hal: ‘’menarik’’ dan ‘’penting’’.

Disebut ‘’menarik’’ karena ‘’baru’’. Artikel itu saya posting di www.kompasiana.com/kompasanda pada hari yang sama dengan saat peristiwanya. Pembatalan sebagai pembicara seminar juga merupakan hal ‘’baru’’ yang kurang lazim terjadi.

Artikel menjadi semakin ‘’menarik’’ karena ‘’dekat’’. Peristiwanya terjadi di Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Kota yang terkenal dengan ‘’bandeng presto’’ dan ‘’lumpia’’ itu memiliki kedekatan dengan pembaca, baik secara geografis maupun psikologis. Ceritanya akan beda kalau peristiwanya terjadi di luar negeri.

Kisah semakin menarik karena ada unsure ‘’human interest’’ di dalamnya. Sang pembicara hari itu harus menyewa pesawat dengan uang pribadi seharga USD 18.000 karena harus hadir di dua kampus di Semarang dan harus tiba di Banjarmasin pukul 15 WITA. Sedangkan penerbangan langsung dari Semarang ke Banjarmasin tidak ada.

Tapi yang membuat kisah itu lebih menarik adalah keterlibatan tokohnya. Kebetulan, tokoh yang membatalkan diri sebagai pembicara seminar itu adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Mantan CEO ‘’Jawa Pos’’ itu memang sedang menjadi perhatian masyarakat, di dalam dan luar negeri.

PILIH TARGET PEMBACA

Ini uniknya beriklan di media social. Target pembaca pun bisa ditentukan secara suka-suka. Database pengguna media sosial menjadi dasar sistem informasinya bekerja. Anda boleh pilih rentang usianya, wilayah tempat tinggalnya, tingkat pendidikanya, jenis kelaminnya, hobinya, ketertarikannya dan baurannya.

Karena basisnya adalah digital, semua notifikasi tercatat dengan akurat dan real time. Jadi, setiap saat bisa dipantau pergerakan traffic pembacanya. Trennya naik atau turun, mudah dibaca dan untuk dibuat strategi berikutnya bila ingin ‘’mengerek’’ popularitasnya.

Keunikan fitur promosi di media sosial adalah peluang baru yang bisa dimanfaatkan siapa saja. Seorang calon anggota legislatif tak perlu menjadi ‘’hantu pohon’’ lagi untuk memperkenalkan diri kepada pemilih potensialnya. Selain mahal biayanya, juga tidak jelas efektivitasnya. Melanggar peraturan Pemda dan Komisi Pemilihan Umum pula!

Lembaga pendidikan tinggi cukup menyasar pengguna Facebook berusia remaja yang tinggal di kota-kota yang menjadi sasarannya. Lembaga asuransi pensiun bisa mengelola pesan apa yang cocok untuk pengguna berusia di atas 50 tahun saja. Rumah sakit bisa menginformasikan layanannya hanya kepada orang-orang dengan kecenderungan tertentu saja.

Seperti itulah ilmu jurnalistik bekerja. Begitulah ilmu media sosial bekerja. Pengetahuan serta pengalaman dalam jejaring media dan kepenulisan sangat mempengaruhi hasilnya. Dua hal inilah yang menjelaskan mengapa tidak semua tenaga kreatif itu punya honor yang sama.

Kontak saya bila Anda mau mencoba.

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Follow me @intartojoko

Email: jokointarto@jpmc.co.id


1 Komentar

  1. […] Hantu Pohon di Era Jurnalisme Digital. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: