Mewahnya Makan Siang Dahlan Iskan

100_1297

Civitas academica Universitas Advent Indonesia (Unai) Bandung tidak menyangka kalu Menteri BUMN Dahlan Iskan bersedia makan siang dengan menu asrama mahasiswa. Peristiwa itu terjadi seusai Dahlan menjadi pembicara dalam ceramah umum mahasiswa aula Unai, Rabu (13/11).

Makan siang bersama mahasiswa sebenarnya tidak direncanakan. Sebab, Dahlan dijadwalkan hanya akan menjadi pembicara dari pukul 10.00 hingga pukul 12.00 saja. Setelah itu, Dahlan harus tiba di Jakarta pukul 15.00 karena para anggota Dharma Wanita seluruh Indonesia telah menantinya.

Tetapi Dahlan merasa tidak tega meninggalkan acara dialog dengan mahasiswa Unai ketika tenggat dua jam telah lewat. Antusiasme mahasiswa itu berhasil membuatnya berada lebih lama di kampus yang berdiri sejak 1949 di kawasan pegunungan Lembang itu.

Karena telah masuk jadwal makan siang, Dahlan langsung bersedia, ketika pembawa acara menawarkan makan siang bersama penghuni asrama. Jawaban itu mengejutkan civitas academica. Sebab, banyak yang menyangka makan siang Dahlan tidak berbeda dengan pejabat-pejabat yang mereka kenal sebelumnya.

100_1296

Tiba di ‘’dining room’’, Dahlan menerima sebuah baki alumunium. Di atasnya telah tersaji dua potong tempe bacem, semangkuk sayur lodeh, sepiring nasi, semangkuk lalapan dan semangkuk sop buah. Menu itu sama dengan yang dinikmati 1.800 mahasiswa, dosen dan karyawan Unai.

Beberapa mahasiswa berkomentar heran melihat Dahlan yang menikmati menu asrama itu. ‘’Bukan main… Sudah jadi pejabat, tapi masih doyan makanan asrama,’’ celetuk seorang mahasiswi kepada temannya. Saya yang sedang berdiri di dekatnya hanya tertawa dalam hati. ‘’Belum tahu dia kalau menu asrama ini lebih bagus dari makan Pak Dahlan biasanya,’’ batin saya.

Benarkah lebih bagus? Ya! Coba bandingkan dengan menu yang disantap Dahlan seusai meresmikan KA Pangrango jurusan Bogor – Sukabumi di Stasiun Bogor Paledang, Sabtu lalu (9/11). Saat itu Dahlan hanya makan soto kuning kelas gerobak kaki lima. Tempat makannya pun seadanya, di samping pagar pembatas rel kereta.

100_1084

‘’Standar asrama mahasiswa ternyata tidak kalah dengan hotel bintang lima,’’ puji Dahlan sambil merapikan alat makannya. Baki alumunium itu tampak bersih. Tidak ada satu pun menu yang tersisa. Makan siang di asrama mahasiswa itu terlalu mewah buat Dahlan Iskan, dibanding biasanya.

Joko Intarto

 

Iklan

 

Semula saya tidak optimistis. Karena itu, saya hanya melakukannya dengan ‘’coba-coba’’. Ambil paket hemat saja. Karena hanya ingin membuat analisa.

Dengan biaya hanya USD 50, saya ingin menjangkau 50 ribu orang. Tidak masuk akal? Biar saja. Namanya juga coba-coba!

Tapi demikianlah faktanya. Artikel yang saya posting itu difacebook itu setelah ‘’boosting’’ dengan dana sekitar Rp 500 ribu, dibaca lebih dari 160 ribu orang.

Lebih dari 3 ribu orang di antaranya memberi komentar dan menyatakan ‘’suka’’. Lebih dari 300 orang dengan sukarela menyebarkan artikel itu kepada jejaringnya. Lebih dari 500 orang menjadi member baru.

Murah? Tentu saja sangat murah. Hitung saja, berapa biaya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada setiap pembaca. Belum lagi ‘’bonus’’ berupa keterlibatan ribuan pembaca untuk berdiskusi melalui forum komentar dan tanda suka dan menyebarkannya. Itu pun masih ditambah lagi dengan masuknya member baru.

Artikel saya di ‘’Kompasiana’’ pun kecipratan tuahnya. Jumlah pembaca ikut bertambah. Jumlah teman saya juga meningkat. Artikel saya sekarang sudah ada yang dibaca 2.400 orang. Angka itu masih terlalu sedikit, tetapi sudah cukup menyenangkan saya.

Ahmad Zaini, partner saya dalam menggarap strategi komunikasi media sosial, menyimpulkan bahwa dari sisi keberhasilan berkomunikasi, artikel saya itu tergolong sangat berhasil. Sebab, responnya tiga kali lipat dibanding data rata-rata. Mengapa bisa begitu? ‘’Tema dan teknik penulisannya,’’ jawab Zaini.

Benarkah? Tanpa bermaksud memuji artikel itu, saya tuliskan hasil analisa dari sisi jurnalistik setelah mendiskusikan lebih dari satu jam bersama Zaini.

TEMA HARUS AKTUAL

Tujuan penerbitan artikel saya adalah mengingatkan pembaca untuk ‘’menghargai waktu’’. Menurut saya, misi ini penting agar ‘’jam karet’’ tidak menjadi hal biasa di masyarakat. Menghargai waktu merupakan tema yang aktual karena mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan itu menemukan momentumnya pada saat ada tokoh membatalkan diri sebagai pembicara seminar di Semarang. Harusnya tokoh itu menjadi pembicara pukul 08.00 pagi. Namun hingga 30 menit kemudian, seminar yang digagas IAIN Walisongo itu belum juga dimulai. Tokoh itu kemudian pamit untuk meneruskan agenda berikutnya di kampus Universitas Diponegoro.

GUNAKAN RUKUN IMAN BERITA

Ketertarikan pembaca tidak harus menyangkut hal-hal yang luar biasa. Nyatanya, tema ‘’menghargai waktu’’ yang sederhana pun bisa menarik begitu banyak orang untuk membacanya.

Rahasianya ada pada ‘’rukun iman berita’’. Peristiwa kecil itu menjadi disukai karena dinilai memenuhi dua hal: ‘’menarik’’ dan ‘’penting’’.

Disebut ‘’menarik’’ karena ‘’baru’’. Artikel itu saya posting di www.kompasiana.com/kompasanda pada hari yang sama dengan saat peristiwanya. Pembatalan sebagai pembicara seminar juga merupakan hal ‘’baru’’ yang kurang lazim terjadi.

Artikel menjadi semakin ‘’menarik’’ karena ‘’dekat’’. Peristiwanya terjadi di Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Kota yang terkenal dengan ‘’bandeng presto’’ dan ‘’lumpia’’ itu memiliki kedekatan dengan pembaca, baik secara geografis maupun psikologis. Ceritanya akan beda kalau peristiwanya terjadi di luar negeri.

Kisah semakin menarik karena ada unsure ‘’human interest’’ di dalamnya. Sang pembicara hari itu harus menyewa pesawat dengan uang pribadi seharga USD 18.000 karena harus hadir di dua kampus di Semarang dan harus tiba di Banjarmasin pukul 15 WITA. Sedangkan penerbangan langsung dari Semarang ke Banjarmasin tidak ada.

Tapi yang membuat kisah itu lebih menarik adalah keterlibatan tokohnya. Kebetulan, tokoh yang membatalkan diri sebagai pembicara seminar itu adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Mantan CEO ‘’Jawa Pos’’ itu memang sedang menjadi perhatian masyarakat, di dalam dan luar negeri.

PILIH TARGET PEMBACA

Ini uniknya beriklan di media social. Target pembaca pun bisa ditentukan secara suka-suka. Database pengguna media sosial menjadi dasar sistem informasinya bekerja. Anda boleh pilih rentang usianya, wilayah tempat tinggalnya, tingkat pendidikanya, jenis kelaminnya, hobinya, ketertarikannya dan baurannya.

Karena basisnya adalah digital, semua notifikasi tercatat dengan akurat dan real time. Jadi, setiap saat bisa dipantau pergerakan traffic pembacanya. Trennya naik atau turun, mudah dibaca dan untuk dibuat strategi berikutnya bila ingin ‘’mengerek’’ popularitasnya.

Keunikan fitur promosi di media sosial adalah peluang baru yang bisa dimanfaatkan siapa saja. Seorang calon anggota legislatif tak perlu menjadi ‘’hantu pohon’’ lagi untuk memperkenalkan diri kepada pemilih potensialnya. Selain mahal biayanya, juga tidak jelas efektivitasnya. Melanggar peraturan Pemda dan Komisi Pemilihan Umum pula!

Lembaga pendidikan tinggi cukup menyasar pengguna Facebook berusia remaja yang tinggal di kota-kota yang menjadi sasarannya. Lembaga asuransi pensiun bisa mengelola pesan apa yang cocok untuk pengguna berusia di atas 50 tahun saja. Rumah sakit bisa menginformasikan layanannya hanya kepada orang-orang dengan kecenderungan tertentu saja.

Seperti itulah ilmu jurnalistik bekerja. Begitulah ilmu media sosial bekerja. Pengetahuan serta pengalaman dalam jejaring media dan kepenulisan sangat mempengaruhi hasilnya. Dua hal inilah yang menjelaskan mengapa tidak semua tenaga kreatif itu punya honor yang sama.

Kontak saya bila Anda mau mencoba.

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Follow me @intartojoko

Email: jokointarto@jpmc.co.id

Ketemu Jalan Gara-Gara Ditegur Dahlan Iskan

Makan kaledo itu sengsaranya tidak sebanding dengan hasilnya. Dua tangan harus bertenaga penuh untuk memainkan garpu dan pisau. Hasilnya hanya secuil daging dan tulang muda. Tapi kalau berhasil menyedot sumsumnya, lezatnya luar biasa.

Seperti makan kaledo itulah gambara pengalaman saya menerbitkan koran di kota Palu pada 1993. Susah, banyak masalah dan berdarah-darah! Tapi saya selalu ingat nasihat Dahlan Iskan untuk tidak mengeluh, apalagi lari.

Masalah pertama yang saya temui adalah, ketika membaca laporan keuangan. Posisi kas nyaris kosong! Kertas dan plate hanya cukup untuk tiga bulan. Tinta cukup untuk enam bulan.

Oplah terjual hanya 900 eksemplar dari cetak 1.500 eksemplar per hari. Tunggakan di agen hampir merata. Sementara tagihan jatuh tempo dari supplier sudah menumpuk sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Dari semua penagih, yang paling menakutkan saya adalah Bank BNI dan Bank BRI. Sebab, tanah berikut kantor redaksi dan tanah berikut percetakannya dalam pengawasan kedua bank pelat merah itu. Bila gagal bayar, seluruh asset akan disita. Koran sudah pasti tidak akan terbit lagi.

Masuk ke ruang redaksi, situasinya lebih miris lagi. Hanya ada 2 unit komputer grafis dan empat unit komputer kerja redaksi. Kondisinya sudah tua. Ternyata itu bekas komputer redaksi ‘’Jawa Pos’’ Surabaya yang terkena peremajaan. Untuk menyelesaikan 8 halaman koran, tentu kurang memadai.

Jumlah wartawan dan redaktur saat itu ada 10 orang. Jadi harus bergantian. Wartawan mengetik dulu semua berita. Setelah selesai, baru redaktur yang menggunakan komputer.

Tenaga desain lay out hanya dua orang. Pernah suatu ketika keduanya tidak masuk. Yang satu sakit. Yang satu sakit dan yang satu ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Terpaksa redakturnya yang menata halaman.

Hasilnya adalah cetak terlambat dan kualitas desainnya buruk. Tapi itu lebih baik daripada koran tidak terbit sama sekali. Mana bisa kita memasang pengumuman mohon maaf tidak terbit karena layouter sakit?

Percetakan juga punya problem sendiri. Hanya ada satu unit mesin cetak Goss dengan kapasitas cetak 4 halaman hitam putih dengan satu unit head mesin potong. Dengan satu mesin, maka untuk mencetak 8 halaman berarti membutuhkan dua kali cetak.

Dengan kecepatan cetak rata-rata 4.000 eksemplar per jam, maka butuh sekurang-kurangnya tiga jam untuk mencetak 8 halaman hitam putih dengan oplah 5.000 eksemplar.

Karena sekali cetak hanya bisa 4 halaman, butuh waktu tambahan untuk menyisip satu per satu. Rata-rata sekali sisip butuh 5 detik. Berarti waktu yang diperlukan untuk menyisipkan seluruh cetakan adalah 5 detik x 5.000  atau 25.000 detik.

Bila dikonversi ke menit menjadi 25.000 : 60 atau 416 menit atau 6 jam. Harus ada 6 tenaga sisip agar bisa menghemat 5 jam!

Karena target edar di agen adalah pukul 04.00 maka cetak harus sudah mulai pukul 24.00. Proses sebelum cetak adalah membuat film dan plate cetak yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Berarti deadline layout redaksi adalah pukul 23.30.

Perlu rata-rata dua jam untuk menyelesaikan layout 8 halaman dengan dua komputer. Berarti redaktur harus menyelesaikan editing berita pukul 21.30.

Redaktur butuh dua jam untuk mengedit seluruh berita. Maka reporter harus sudah menyelesaikan berita pukul 19.30. Bila wartawan butuh dua jam untuk menulis berita, maka wartawan sudah harus masuk kantor paling lambat pukul 17.30.

Problem berita lokal teratasi. Tapi berita nasional belum. Sebab, ‘’Jawa Pos’’ memberlakukan deadline berita nasional pukul 24.00 WIB. Padahal, Palu satu jam lebih cepat.

Saya nyaris menyerah sebelum tenggat tiga bulan, ketika kertas sudah mulai menipis dan uang kas tidak cukup untuk membeli koran baru. Dana Rp 15 juta yang saya terima dari ‘’Jawa Pos’’ untuk talangan gaji karyawan tiga bulan sudah habis pada bulan kedua.

Pada puncak krisis itulah, saya memberanikan menelepon Dahlan Iskan untuk mengabarkan kesulitan. Bukannya mendapat jalan keluar, Dahlan malah memberi teguran.  ‘’Jual koran yang lebih keras. Cari iklan yang lebih giat. Cari utang ke siapa. Saya tidak tahu,’’ kata Dahlan dengan nada tinggi.

Cari utangan! Itulah inspirasi dari teguran Dahlan. Tapi utang pada siapa? Tanpa diduga, malam harinya saya bertemu Arpian, area manager PT Djarum, teman lama saya di Jakarta. Arpian kemudian membantu dengan memasang iklan yang nilainya cukup untuk membeli kertas koran sebanyak 4 kontainer 20 feet.

Pertemuan dengan Arpian itulah yang menyelamatkan Mercusuar dari kebangkrutannya. Dua tahun kemudian, Mercusuar berhasil melunasi seluruh utangnya di supplier dan bank.

Tapi yang paling menyenangkan hati adalah ketika bisa membagi deviden kepada pemegang saham pada awal 1995. Saya ingat betul betapa terharunya Pak Rusdi Toana, pendiri ‘’Mercusuar’’ saat saya menyerahkan cek di rumahnya. ‘’Keinginan terbesar saya adalah naik haji. Saya akan berangkat dengan uang ini,’’ kata Pak Rusdi.

Sambil menangis, Pak Rusdi memeluk saya lama sekali. Tetesan air mata itu, bahkan masih bisa saya rasakan hingga kini.

Joko Intarto @IntartoJoko

Penulis dan Praktisi Media

Artikel ini merupakan seri ketiga dari tiga tulisan untuk merayakan ulang tahun ke-12 Radar Sulteng

 

Pelajaran Menghargai Waktu dari Pak Menteri

Agar bisa hadir tepat waktu, Dahlan Iskan pun  menyewa pesawat dengan uang pribadi.
Agar bisa hadir tepat waktu, Dahlan Iskan pun menyewa pesawat dengan uang pribadi.

 

Saya baru tiba di rumah ketika sebuah pesan pendek masuk ke handphone saya. “Besok pagi ikut saya ke Semarang dan Banjarmasin. Sore kembali ke Jakarta. Mau nggak?” tulis Menteri BUMN Dahlan Iskan, Selasa (22/10) menjelang tengah malam.

Tawaran ke Semarang tidak menarik bagi saya. Sebab, saya baru meninggalkan kota Semarang, sehari sebelumnya. Tapi tawaran ke Banjarmasin sungguh menggoda. Maklum, saya belum pernah mengunjungi kota itu sekali pun.

“Oke Pak. Siap ikut,” balas saya melalui pesan pendek.

“Kita berangkat dari Monas pukul 05.15,” sahut Dahlan, juga melalui pesan pendek.

Komunikasi yang teramat singkat. Tapi saya tidak berusaha untuk menanyakan apa agenda Pak Menteri di Semarang dan Banjarmasin. Pekerjaan menyusun proposal untuk klien segera mengalihkan perhatian saya.

Di tengah kesibukan, handphone saya berdering. Darmawan, manager promosi Harian Indopos menghubungi saya, menanyakan lokasi berkumpul di Monas. Rupanya, Darmawan juga ditawari ikut ke Semarang dan Banjarmasin oleh Dahlan. “Berangkat bareng saja,” jawab saya.

Pukul 04.00 saya dan Darmawan meninggalkan rumah di Kelapa Gading menuju Monas. Seusai salat subuh di Wisma Antara, saya berjalan kaki menuju lokasi patung Ikada. Lokasi favorit Dahlan bersenam pagi bersama kawan-kawannya.

Tiba di lapangan Ikada, saya bertemu dengan beberapa orang lagi. Ada Fauzi pimpinan Harian Pasundan Ekspres dan Gus Azis Muis, ustadz muda yang baru saya kenal.

Tidak seperti biasanya, hari itu, Dahlan hanya bersenam 30 menit. “Kita harus berangkat lebih awal, karena kita tidak memakai mobil dan polisi pengawal,” kata Dahlan sambil berjalan kaki menuju kantor Kementerian BUMN.

Dahlan adalah satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu yang tidak menggunakan fasilitas pengawalan polisi. Karena tanpa pengawal, Dahlan harus pintar dan disiplin waktu karena kemacetan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

“Di Semarang, apa ada acara apa Pak,” tanya saya kepada Pak Menteri.

“Menghadiri undangan IAIN Walisongo dan FISIP Undip,” jawab Dahlan sambil membetulkan tali sepatu kets “DI-19″ kesukaannya.

“Atur penumpang, minimal 3 orang dalam 1 mobil. Kita akan lewat jalur 3 in 1,” kata Dahlan, sembari masuk ke mobilnya, Nissan Serena keluaran 2011, yang biasa dipakai istrinya.

Mengapa pakai Serena? Di mana sedan Mercy-nya? “Mercy sudah 2 minggu di bengkel. Maklum, sudah 7 tahun dipakai. Mulai banyak yang harus diperbaiki,” kata Sahidin, karyawan Jawa Pos yang sekarang ditugaskan menjadi sopir khusus buat Pak Menteri.

Beriringan kami menuju lapangan terbang Halim Perdana Kusuma di Jakarta Timur. Perjalanan ke Semarang dan Banjarmasin memang tidak menggunakan pesawat regular, melainkan pesawat carter karena rute penerbangan dan jadwal kegiatannya tidak bisa disesuaikan.

“Ini soal komitmen. Saya sudah menyatakan siap hadir menjadi pembicara di IAIN Walisongo dan FISIP Undip. Ternyata, hari yang sama juga ada pelantikan anggota PWI Pusat di Banjarmasin. Melihat rute dan jadwalnya, tidak mungkin kita naik Garuda atau Citilink. Harus sewa pesawat,” jawab Dahlan.

Tepat pukul 06.30, pesawat Avanti yang disewa dari Susi Air tinggal landas meninggalkan lapangan terbang Halim Perdana Kusuma, menuju lapangan terbang Ahmad Yani, Semarang. Total ada 8 orang penumpang ditambah 1 pilot dan 1 co pilot.

Inilah pengalaman terbang termahal bagi saya. Perjalanan dari Jakarta – Semarang – Banjarmasin – Jakarta itu biayanya USD 18.000!

Setelah mengudara 45 menit, pesawat pun mendarat di Lapangan Terbang Ahmad Yani, Semarang, dengan mulus. Bersama rombongan rektoran IAIN Walisongo yang menjemput, rombongan bergegas menuju Hotel Pandanaran. Di situ, Dahlan didaulat menjadi pembicara kunci dalam sebuah seminar bertema komunikasi.

Tiba di hotel, suasana masih sepi. Dahlan mulai bertanya-tanya, mengapa seminar dimulai? Bukankah pukul 08.00 seharusnya Dahlan sudah membawakan presentasi?

Tiga puluh menit Dahlan menunggu. Seminar tak kunjung dimulai. Dahlan mulai gelisah. Ditinggalkannya ruang tunggu VIP menuju ruang seminar. Rupanya, belum ada tanda-tanda seminar akan segera dimulai.

“Mohon maaf, saya sudah 30 menit di sini. Tapi seminarnya belum juga dimulai. Waktu saya sangat terbatas. Saya ke kampus Universitas Diponegoro saja,” kata Dahlan sambil bergegas ke mobil jemputan yang disediakan Universitas Diponegoro di halaman hotel.

Panitia seminar IAIN Walisongo tampak panik. “Tunggu 30 menit lagi Pak,” jawab panitia. “Maaf, tidak bisa. Lain waktu, saya akan datang lagi,” sahut Dahlan.

“Inilah potret kita hari ini. Masih banyak orang yang tidak menghargai waktu. Kita sudah bela-belain datang dengan menyewa pesawat. Ini bukan soal harga sewanya. Tetapi soal komitmennya,” kata Dahlan di dalam mobil.

Kekecewaan Dahlan akhirnya terbayar lunas di kampus Universitas Diponegoro. Walau kedatangan Dahlan satu jam lebih awal dari rencana, lebih dari 800 mahasiswa menyambutnya. Bahkan Irwan Hidayat, bos Sido Muncul, yang menjadi pembicara kedua dalam seminar “Here to be Entrepreneur” yang digagas mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis FISIP Undip itu pun sudah berada di lokasi.

“Ini baru contoh hebat. Memegang komitmen dan menghargai waktu,” puji Dahlan kepada panitia dan peserta seminar di Undip.

Joko Intarto @IntartoJoko

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Untuk Apa ”Jawa Pos” Terbit 100 Halaman?

Terbit 44 halaman sudah cerita lama. Terbit 62 halaman sudah biasa. Tapi terbit 100 halaman, itu memang istimewa.

Hari ini, Jumat (25/10) koran Jawa Pos mengejutkan pembacanya karena terbit supertebal: 100 halaman! “Masa Depan di Tangan Pemuda” menjadi tema besar yang diusung induk jaringan 207 koran lokal dan 42 stasiun TV lokal di seluruh Indonesia itu.

Beberapa teman saya mengirim pertanyaan, mengapa ‘‘Jawa Pos’’ harus terbit dengan halaman setebal itu? Apakah tidak rugi, karena bandrolnya tetap Rp 3.500 per eksemplar? Apakah pengasong tidak “ngos-ngosan” karena membopong koran lebih berat, untuk jumlah eksemplar lebih sedikit?

Sebenarnya saya ingin menjawab bahwa saya tidak tahu persis alasan manajemen ‘‘Jawa Pos’’ menerbitkan koran dengan tebal 2,5 kali dibanding biasanya. Tapi, jawaban itu pasti kurang menyenangkan teman-teman saya.

Maka, saya coba menjawab dengan alasan yang saya kuasai, sebagai praktisi komunikasi. “Itu strategi agar orang mengingat kembali brand ‘Jawa Pos’. Brand yang sudah dibangun sejak terbit perdana 1 Juli 1948 dan dimudakan kembali oleh Dahlan Iskan pada 1982,” jawab saya.

“Bukankah koran ‘Jawa Pos’ sudah terkenal?” tanya seorang teman, seakan kurang puas dengan jawaban pendek saya.

“Brand yang sudah terkenal pun tetap harus melakukan komunikasi agar terus diingat oleh publik,” jelas saya.

Reminder! Itulah yang dilakukan ‘‘Jawa Pos’’ hari ini. Dengan terbit 100 halaman, ‘‘Jawa Pos’’ berharap publik akan bertanya dan membicarakan ‘‘Jawa Pos’’ lagi.

Rumpian soal ‘‘Jawa Pos’’ diharapkan tidak hanya terjadi di kalangan pembaca tradisionalnya, tetapi juga pada pembaca mudanya yang melek internet.

Pamor media digital dalam beberapa tahun belakangan ini memang luar biasa. Media digital dengan keunikannya, telah menggeser posisinya dari media alternatif menuju mainstream.

Media digital kini diandalkan berbagai pihak untuk mengelola isu-isu strategis dari bidang pemasaran hingga politik. Pengaruh media digital sering kali merepotkan berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah.

Media digital sepeti telah berhasil menjadikan konsumennya asyik di “wilayahnya” sendiri meninggalkan media konvensional seperti media cetak, radio dan televisi. ‘‘Jawa Pos’’ sebagai media konvensional terbesar di Indonesia saat ini, tentu tidak ingin ditinggalkan dalam “rumpian” masyarakat digital.

Karena itu, ‘‘Jawa Pos’’ terbit 100 halaman, justru bukan pada saat berulang tahun. ‘‘Jawa Pos’’ memilih momen Sumpah Pemuda sebagai kesempatan untuk masuk ke kehidupan generasi digital agar mereka tahu bahwa ‘‘Jawa Pos’’ hari ini, berbeda dengan ‘‘Jawa Pos’’ masa lalu.

Di masa lalu, ‘‘Jawa Pos’’ pernah menjadi buah bibir masyarakat luas, karena ‘‘Jawa Pos’’ menjadi pendukung utama berbagai aktivitas penggemar Persebaya yang terkenal dengan nama “bonek” alias “bondo nekat”.

Puncaknya, ‘‘Jawa Pos’’ mengorganisir puluhan ribu “bonek” dari Surabaya menuju Jakarta untuk merebut juara liga melawan Persija. Konvoi ratusan bus dan puluhan gerbong kereta api itu dikenal dengan sebutan “tret-tet-tet”. “Bonek” dan “tret-tet-tet” adalah dua kata yang melegenda, setidaknya di Surabaya.

Kali ini, ‘‘Jawa Pos’’ mencoba jurus lain. Bukan “bonek”, juga bukan “tret-tet-tet”, melainkan terbit 100 halaman. Berhasilkan? Menurut saya berhasil. Buktinya, Anda membaca artikel ini.

Joko Intarto @IntartoJoko

Wartawan dan praktisi komunikasi

Bayangan Sulitnya Seperti Makan Kaledo

Butuh pisau dan sumpit untuk makan Kaledo, masakan khas Kota Palu.

Hari-hari sebelum berangkat ke Palu (1993) merupakan masa yang paling membosankan. Sepanjang pagi hingga sore hanya duduk di ruang keuangan Jawa Pos untuk belajar menyusun, membaca dan menganalisa laporan keuangan saja.

Istilah-istilah teknis seperti ROI, ROA, EBIT, EBITDA, dan masih banyak lagi yang harus saya pahami dalam waktu cepat. Sementara pengetahuan akuntasi saya boleh dibilang sangat rendah.

Untungnya, saat kuliah (1986 – 1991) saya pernah mengelola agen koran dan majalah. Memang skalanya kecil. Hanya melayani sekitar 350 pelanggan saja. Lopernya pun cuma empat orang.  Pembukuan keuangannya juga tidak rumit. Meski demikian, pengalaman itu cukup membantu saya dalam memahami logika akuntasi.

Pagi sampai siang belajar keuangan. Sore hingga malam belajar manajemen redaksi mulai membuat perencanaan berita hingga manajemen deadline. Tengah malam belajar manajemen pracetak dan percetakan. Menjelang subuh hingga pagi belajar distribusi dan pemasaran koran.

Tiga hari belajar proses industri koran sebenarnya belum cukup. Baru bisa paham kulitnya saja. Tapi perjalanan ke Manado tidak bisa ditunda. Karena dalam waktu seminggu sudah harus tiba di Palu, berarti sisa waktu belajar di Manado hanya empat hari saja.

‘’Jangan pergi dari Palu sebelum tiga bulan. Jangan pulang ke Surabaya sebelum tiga bulan. Jangan telepon saya sebelum tiga bulan. Apapun masalah yang Anda hadapi, selesaikan sendiri. Jangan minta bantuan saya atau kantor Surabaya,’’ pesan Dahlan Iskan ketika saya berpamitan.

Tiba di Manado, mulailah saya mengenal dunia penerbitan koran di luar Jawa yang sebenarnya. Penerbitan dengan fasilitas dan skill karyawan yang jauh dari memadai, tetapi dengan tuntutan hasil kerja yang sama baiknya dengan perusahaan koran di Jawa.

Empat hari saya belajar bagaimana sulitnya menagih piutang koran di agen-agen. Belajar bagaimana mengantisipasi agar mesin cetak yang rusak bisa diperbaiki dengan segera di pagi buta. Belajar bagaimana sulitnya mengirim koran tepat waktu karena sarana transportasi yang amat terbatas. Belajar bagaimana menghadapi situasi sosial yang tidak semuanya siap dengan perubahan.

‘’Waktu belajar sudah habis. Pagi ini Anda harus berangkat ke Palu,’’ kata Imawan Mashuri, pimpinan ‘’Manado Pos’’ saat itu.

Seusai sarapan nasi kuning di warung dekat kantor, saya berangkat ke Bandara Sam Ratulangi menuju Palu diantar Hendro Boroma, wartawan muda berbakat, yang sekarang CEO Manado Post Group. Bayangan kota Palu segera memenuhi kepala saya, begitu memasuki pesawat Bouraq.

Tri Putra Toana adalah orang pertama yang saya temui begitu tiba di bandara Palu. Pak Tri, begitu biasa dipanggil, adalah anak Rusdi Toana, tokoh pendidik dan Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, yang juga pendiri koran ‘’Mercusuar’’.  Pak Tri adalah satu-satunya anak Pak Rusdi yang tertarik dengan bisnis media.

Pak Tri ternyata ditemani Suardi, redaktur senior ‘’Mercusuar’’. Suardi ini sudah saya kenal sebelumnya, karena pernah bertemu di kantor ‘’Jawa Pos’’ Surabaya saat menjadi tim penerbitan ‘’Jawa Pos’’ edisi Arab Saudi pada musim haji tahun 1992.

Bertiga kami meninggalkan bandara menuju sebuah rumah makan untuk menikmati makan siang dengan menu khas Palu, yakni kaledo. Inilah makanan unik yang terbuat dari tulang sapi dan singkong rebus. Dari tulang itu, yang bisa dimakan hanya tulang muda dan sisa daging yang menempel di tulang itu.

Satu-satunya bagian yang terlezat dari kaledo adalah sumsum yang harus diambil dari potongan tulang itu dengan pisau besar dan sumpit. Perlu tenaga dan keahlian ekstra untuk menikmatinya.  ‘’Anda bisa mengenal karakter pasar dan masyarakat Palu dengan makan kaledo,’’ kata Pak Tri dengan nada bercanda.

Walau disampaikan dengan bercanda, sulitnya menikmati kaledo ternyata betul-betul menggambarkan sulitnya mengelola koran ‘’Mercusuar’’ hingga enam tahun kemudian. Sebuah kemiripan yang tidak disengaja.

Sebuah pengalaman pribadi

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Artikel ini merupakan seri kedua dari tiga tulisan yang saya siapkan untuk memperingati ulang tahun ke-12 Radar Sulteng

sumber foto: http://www.indiramalik.com

 

Jatuh Bangun Karena Provokasi Dahlan Iskan

Saya dan Dahlan Iskan, provokator bisnis yang sekarang menjadi Menteri BUMN
Menggapai puncak karir adalah mimpi semua karyawan. Tapi ketika puncak karir itu sudah di tangan, rasa senang dan bangga itu mendadak sirna. Episode selanjutnya justru penuh dengan keragu-raguan dan ketakutan.

Suatu senja pada tahun 1993. Saya baru mulai menulis liputan di kantor biro Jakarta, saat CEO ‘’Jawa Pos’’ Dahlan Iskan menelepon dari Surabaya. ‘‘Anda masih berminat ke luar Jawa?’‘ tanya Dahlan. ‘‘Masih Bos,’‘ jawab saya tegas.

Jawaban dua kata itu ternyata panjang dampaknya. Jawaban pendek itu seketika mengubah jalan hidup saya, dari seorang reporter menjadi pemimpin perusahaan.  ‘‘Oke. Anda akan ditugaskan memimpin koran Mercusuar di Palu, Sulawesi Tengah,’‘ kata Dahlan, ketika bertemu saya beberapa jam kemudian.

‘‘Apa yang akan Anda lakukan untuk membesarkan koran itu?’‘ tanya Dahlan, dalam rapat besar di kantor lama di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan.

Menjawab pertanyaan itu, saya segera mengemukakan rencana pembenahan manajemen redaksinya. Persis seperti nasihat Dahlan yang sering saya dengar langsung. ‘‘Koran gagal atau sukses itu, nomor satu ditentukan kualitas redaksinya. Nomor dua karena redaksinya. Nomor tiga karena redaksinya. Nomor 27 karena pemasaran korannya. Nomor 28 karena pemasaran iklannya.’‘

Nasihat itu begitu membekas dalam ingatan saya. Karena itu, sebagai reporter, saya berusaha untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik dengan jumlah yang cukup dan diserahkan tepat waktu. Bukankah penyebab keberhasilan dan kegagalan koran nomor 1 sampai 26 karena redaksinya?

‘‘Sudah berapa lama bekerja sebagai wartawan Jawa Pos?’‘ tanya Dahlan. ‘‘Dua tahun, Pak Boss,’‘ jawab saya.

‘‘Sudah pernah mendapat penghargaan dari perusahaan?’‘ lanjut Dahlan. ‘‘Sudah Pak Boss. Saya dua tahun mendapat hadiah tour ke luar negeri,’‘ jawab saya.

Setahun setelah bekerja, saya memang mendapat hadiah liburan ke ke Singapura selama empat hari. Tahun berikutnya saya mendapat hadiah lebih jauh dan lama, jalan-jalan ke Amerika Serikat selama tiga minggu berkeliling dari Hawai hingga Texas dan menikmati festival bunga terbesar di dunia di Pasadena.

‘‘Modal sebagai wartawan berprestasi saja tidak cukup untuk mengelola sebuah perusahaan media. Koran tidak akan hebat hanya karena redaksinya hebat. Redaksi hebat tidak ada artinya kalau pemasarannya tidak hebat. Tim percetakannya hebat. Tim distribusinya hebat. Tim keuangannya hebat. Itu semua akan menjadi tanggung jawab Anda,’‘ kata Dahlan.

Deg! Kegembiraan saya mendadak sirna. Perlahan tapi pasti, bayangan enaknya menjadi pimpinan itu pun lenyap. Keragu-raguan untuk bisa mengelola perusahaan sebagaimana yang diharapkan Dahlan, mulai mengganggu. Keraguan itu berpuncak pada rasa takut yang berkepanjangan!

Bagaimana mengelola percetakan? Bagaimana mengelola distribusi? Bagaimana mengelola pemasaran? Bagaimana mengatasi kesulitan keuangan? Bagaimana kalau bangkrut? Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya tanpa bisa dihentikan.

Dahlan rupanya pandai membaca perasaan. ‘‘Bagaimana? Anda mau berubah pikiran?’‘ tanya Dahlan sambil tertawa.

Bayangan menjadi general manager dengan tanggung jawabnya yang sangat besar itu benar-benar menakutkan.  Sebagai general manager saya harus mengelola seluruh urusan perusahaan. Dari yang remeh-temeh hingga yang berat-berat.

‘‘Mampukah saya? Ambil atau tidak? Jadi reporter saja. Malu ah, tadinya bersemangat kok sekarang takut?’‘ Beragam suara itu seakan terdengar di telinga saya sahut-menyahut.

‘‘Perlu keberanian untuk mengambil keputusan. Hanya orang-orang yang berani yang berhasil mengubah nasibnya,’‘ lanjut Dahlan, membuka komunikasi yang sempat terhenti.

‘‘Kalau saya menjadi Anda, saya akan konsisten. Kesempatan baik belum tentu datang dua kali. Kalau pun kesempatan baik datang lagi, belum tentu tahun depan. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi,’‘ ujar Dahlan.

‘‘Tapi saya benar-benar belum punya pengalaman mengelola perusahaan penerbitan koran. Saya baru bisa mengelola informasi menjadi berita,’‘ sahut saya.

‘‘Saya tunggu Anda di Surabaya besok pagi. Uang operasional selama tiga bulan sudah disiapkan. Berangkatlah ke Manado untuk belajar bagaimana mengelola perusahaan koran,’‘ kata Dahlan menutup pembicaraan.

‘‘Bagaimana kalau bangkrut?’‘ tanya saya sebelum Dahlan meninggalkan ruangan. ‘‘Bangkrut tidak apa-apa. Yang penting bukan bangkrut karena dikorupsi. Anggap saja kerugian itu sebagai biaya kursus manajemen,’‘ jawab Dahlan sambil berlalu.

Meski jawaban terakhir ini sangat membesarkan hati, namun tidak sanggup membuang rasa takut yang terlanjut menjadi-jadi. Dalam kegalauan dan rasa kantuk menjelang tengah malam, mendadak terbayang ibu saya yang tinggal di kota kecil, Purwodadi, Jawa Tengah.

Dalam bayangan itu, ibu saya sangat senang mendengar rencana kepindahan saya ke Palu. Saya melihat ekspresi ibu saya itu berbeda dibanding waktu saya kabarkan tawaran dari kampus saya, Universitas Diponegoro, untuk menjadi dosen di Universitas Cendrawasih, di Jayapura, pada 1991.

Adzan subuh yang terdengar sayup-sayup dari masjid di seberang mess membangunkan saya dari tidur malam. Seusai salat, saya segera berkemas. Niat sudah bulat. Cara membalik nasib adalah berangkat ke Palu tanpa ragu. Provokasi Dahlan itu yang membuat saya bertahan di Palu selama enam tahun menghadapi berbagai kesulitan dan jatuh-bangun.

Sebuah pengalaman pribadi

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Bisnis Media

Follow me @IntartoJoko

Catatan:

Ini merupakan seri pertama dari tiga tulisan yang saya siapkan untuk memperingati ulang tahun ke-12 Harian Radar Sulteng.

Investasi Aman untuk Awam

Hari-hari ini, ramai betul orang membahas soal Patungan Usaha dan Patungan Asset yang dikelola Ustadz HM. Yusuf Masyur. Dari orang biasa hingga pejabat tinggi, dari media cetak hingga televisi, semua ramai memperbincangkannya.

Saya tertarik menulis soal investasi ini bukan untuk mengulas model bisnis yang dijalankan ustadz muda Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an, Cipondoh, Tangerang, itu. Sebab, saya tidak mengetahui bagaimana model bisnisnya, juga bukan salah satu pemodal dalam bisnis itu. Dari sisi pengetahuan, saya juga merasa bukan orang yang memiliki kompetensi membahas soal investasi.

Saya ingin menulis soal investasi ini dari sisi masyarakat biasa, yang juga ingin mengembangkan bisa dananya yang tidak seberapa itu. Tentu orang-orang seperti saya perlu mengerti cara berinvestasi yang benar, aman dan memberi manfaat.

Hikmah dari ramainya orang memperbincangkan bisnis Patungan Usaha dan Patungan Asset yang dirintis Ustadz Yusuf Mansyur, adalah datangnya sebuah momentum. Ketika masyarakat sedang memiliki perhatian yang cukup dalam bidang investasi, saat itulah, siapa pun dia, menemukan saat yang tepat untuk mengedukasi publik tentang pentingnya memahami berbagai aspek dalam investasi.

Ketika menonton dialog di TV One Kamis malam (18/07) yang menghadirkan Ustadz Yusuf Mansyur, saya sebagai seorang awam mendapat sebuah pencerahan, tentang prinsip penting dalam berinvestasi. Pencerahan itu saya catat dalam lima prinsip investasi.

Prinsip pertama: investor harus melakukan verifikasi apakah lembaga pengelola investasi itu badan hukum atau bukan. Menurut undang-undang, lembaga yang menarik dana dari masyarakat, haruslah berbadan hukum. Karena itu, perorangan tidak diperkenankan melakukan penarikan dana dari masyarakat dengan dalih investasi.

Saya sependapat dengan hal itu. Saya teringat beberapa kisah pilu para investor yang kehilangan dana karena pimpinan lembaga investasi yang ternyata tidak pernah memiliki izin itu kabur entah kemana. Saya juga teringat bagaimana sulitnya nasabah menarik dananya, saat pimpinan koperasi pengelola investasi itu meninggal saat dalam tahanan polisi.

Umur seseorang terbatas. Orang bisa meninggal setiap saat. Namun, bisnis investasi harus didesain sebagai bisnis yang tidak terpengaruh oleh kematian orang-orang yang mengelola. Bisnis investasi harus didesain agar bisa diteruskan oleh orang-orang lain yang ditunjuk, baik melalui jual beli maupun melalui pewarisan harta.

Prinsip kedua: investor harus melakukan verifikasi, apakah lembaga investasi sudah memiliki izin menarik dana masyarakat atau belum. Verifikasi izin ini menurut saya sangat penting. Sebab, bila lembaga yang tidak memiliki izin bisa menarik dana masyarakat, saya sebagai anggota masyarakat sangat berisiko menjadi korban investasi bodong.

Prinsip ketiga: investor harus melakukan verifikasi apakah produk yang ditawarkan sudah memiliki izin atau belum? Ferifikasi izin atas produk ini, menurut saya juga sangat penting. Sebab, investor harus tahu lebih dulu produk yang akan dibeli.

Dengan mengetahui produknya, trend bisnisnya, akan bisa diperkirakan masuk akal atau tidak keuntungan yang dijanjikan produk tersebut dan setelah berapa lama investor bisa mulai menikmati keuntungan investasinya.

Prinsip keempat: investor harus melakukan verifikasi, siapa ahli yang akan mengelola dana dan produk tersebut. Sebagai orang yang memiliki uang terbatas, tentu saya harus yakin dengan orang yang akan ditunjuk sebagai pengelola dana dan produk itu.

Prinsip kelima: investor harus melakukan verifikasi atas informasi kinerja keuangan yang diberikan lembaga investasi. Benarkah informasi yang disajikan bisa dipertanggungjawabkan? Siapa pihak bisa yang mengontrol laporan kinerja perusahaan itu?

Kelima prinsip itu, merujuk pada satu hal: bisnis investasi selalu berbasis rasionalitas. Perhitungan investasi bertumpu pada proyeksi laba dan rugi yang sangat ditentukan oleh jenis produk, dan profesionalitas orang-orangnya. Maka, apapun produknya, siapapun pengelolanya, masyarakat harus mengetahui bahwa produk dan pengelolanya haruslah sudah melewati screening atau fit and proper test.

Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, masyarakat berulang kali terguncang oleh peristiwa investasi bodong. Ratusan miliar rupiah, bahkan mungkin triliunan rupiah dana masyarakat yang ditanam dalam produk investasi, lenyap begitu saja, dalam waktu sekejap.

Sekitar 15 tahun lalu, banyak teman saya yang mengalami kerugian besar. Bila dijumlahkan, nilai kerugiannya miliaran rupiah. Mereka tergoda dengan model investasi dengan produk bermacam-macam. Dari peternakan bebek, perkebunan durian hingga koin emas.

Karena begitu hebohnya bisnis investasi saat itu, Dahlan Iskan sebagai CEO Jawa Pos Group sampai-sampai harus menggelar rapat khusus dengan semua pimpinan perusahaannya.

“Bisnis itu rasional. Maka, keuntungannya juga harus rasional. Bila ada bisnis apapun yang menawarkan keuntungan fantastis, kita harus waspada. Sebab, itu tidak rasional,” kata Dahlan saat itu (Akal Sehat Dahlan Iskan, Cetakan I, April 2013).

Walau banyak teman saya yang merugi, saya termasuk yang selamat dari godaan bisnis investasi itu. Bukan karena sudah paham seluk-beluk investasi, tetapi karena memang tidak punya dana nganggur untuk diinvestasikan.

Joko Intarto

Penulis buku Akal Sehat Dahlan Iskan, Cetakan I, April 2013

Follow me @intartojoko

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: