Bayangan Sulitnya Seperti Makan Kaledo

Butuh pisau dan sumpit untuk makan Kaledo, masakan khas Kota Palu.

Hari-hari sebelum berangkat ke Palu (1993) merupakan masa yang paling membosankan. Sepanjang pagi hingga sore hanya duduk di ruang keuangan Jawa Pos untuk belajar menyusun, membaca dan menganalisa laporan keuangan saja.

Istilah-istilah teknis seperti ROI, ROA, EBIT, EBITDA, dan masih banyak lagi yang harus saya pahami dalam waktu cepat. Sementara pengetahuan akuntasi saya boleh dibilang sangat rendah.

Untungnya, saat kuliah (1986 – 1991) saya pernah mengelola agen koran dan majalah. Memang skalanya kecil. Hanya melayani sekitar 350 pelanggan saja. Lopernya pun cuma empat orang.  Pembukuan keuangannya juga tidak rumit. Meski demikian, pengalaman itu cukup membantu saya dalam memahami logika akuntasi.

Pagi sampai siang belajar keuangan. Sore hingga malam belajar manajemen redaksi mulai membuat perencanaan berita hingga manajemen deadline. Tengah malam belajar manajemen pracetak dan percetakan. Menjelang subuh hingga pagi belajar distribusi dan pemasaran koran.

Tiga hari belajar proses industri koran sebenarnya belum cukup. Baru bisa paham kulitnya saja. Tapi perjalanan ke Manado tidak bisa ditunda. Karena dalam waktu seminggu sudah harus tiba di Palu, berarti sisa waktu belajar di Manado hanya empat hari saja.

‘’Jangan pergi dari Palu sebelum tiga bulan. Jangan pulang ke Surabaya sebelum tiga bulan. Jangan telepon saya sebelum tiga bulan. Apapun masalah yang Anda hadapi, selesaikan sendiri. Jangan minta bantuan saya atau kantor Surabaya,’’ pesan Dahlan Iskan ketika saya berpamitan.

Tiba di Manado, mulailah saya mengenal dunia penerbitan koran di luar Jawa yang sebenarnya. Penerbitan dengan fasilitas dan skill karyawan yang jauh dari memadai, tetapi dengan tuntutan hasil kerja yang sama baiknya dengan perusahaan koran di Jawa.

Empat hari saya belajar bagaimana sulitnya menagih piutang koran di agen-agen. Belajar bagaimana mengantisipasi agar mesin cetak yang rusak bisa diperbaiki dengan segera di pagi buta. Belajar bagaimana sulitnya mengirim koran tepat waktu karena sarana transportasi yang amat terbatas. Belajar bagaimana menghadapi situasi sosial yang tidak semuanya siap dengan perubahan.

‘’Waktu belajar sudah habis. Pagi ini Anda harus berangkat ke Palu,’’ kata Imawan Mashuri, pimpinan ‘’Manado Pos’’ saat itu.

Seusai sarapan nasi kuning di warung dekat kantor, saya berangkat ke Bandara Sam Ratulangi menuju Palu diantar Hendro Boroma, wartawan muda berbakat, yang sekarang CEO Manado Post Group. Bayangan kota Palu segera memenuhi kepala saya, begitu memasuki pesawat Bouraq.

Tri Putra Toana adalah orang pertama yang saya temui begitu tiba di bandara Palu. Pak Tri, begitu biasa dipanggil, adalah anak Rusdi Toana, tokoh pendidik dan Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, yang juga pendiri koran ‘’Mercusuar’’.  Pak Tri adalah satu-satunya anak Pak Rusdi yang tertarik dengan bisnis media.

Pak Tri ternyata ditemani Suardi, redaktur senior ‘’Mercusuar’’. Suardi ini sudah saya kenal sebelumnya, karena pernah bertemu di kantor ‘’Jawa Pos’’ Surabaya saat menjadi tim penerbitan ‘’Jawa Pos’’ edisi Arab Saudi pada musim haji tahun 1992.

Bertiga kami meninggalkan bandara menuju sebuah rumah makan untuk menikmati makan siang dengan menu khas Palu, yakni kaledo. Inilah makanan unik yang terbuat dari tulang sapi dan singkong rebus. Dari tulang itu, yang bisa dimakan hanya tulang muda dan sisa daging yang menempel di tulang itu.

Satu-satunya bagian yang terlezat dari kaledo adalah sumsum yang harus diambil dari potongan tulang itu dengan pisau besar dan sumpit. Perlu tenaga dan keahlian ekstra untuk menikmatinya.  ‘’Anda bisa mengenal karakter pasar dan masyarakat Palu dengan makan kaledo,’’ kata Pak Tri dengan nada bercanda.

Walau disampaikan dengan bercanda, sulitnya menikmati kaledo ternyata betul-betul menggambarkan sulitnya mengelola koran ‘’Mercusuar’’ hingga enam tahun kemudian. Sebuah kemiripan yang tidak disengaja.

Sebuah pengalaman pribadi

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Komunikasi

Artikel ini merupakan seri kedua dari tiga tulisan yang saya siapkan untuk memperingati ulang tahun ke-12 Radar Sulteng

sumber foto: http://www.indiramalik.com

 

Iklan

Jatuh Bangun Karena Provokasi Dahlan Iskan

Saya dan Dahlan Iskan, provokator bisnis yang sekarang menjadi Menteri BUMN
Menggapai puncak karir adalah mimpi semua karyawan. Tapi ketika puncak karir itu sudah di tangan, rasa senang dan bangga itu mendadak sirna. Episode selanjutnya justru penuh dengan keragu-raguan dan ketakutan.

Suatu senja pada tahun 1993. Saya baru mulai menulis liputan di kantor biro Jakarta, saat CEO ‘’Jawa Pos’’ Dahlan Iskan menelepon dari Surabaya. ‘‘Anda masih berminat ke luar Jawa?’‘ tanya Dahlan. ‘‘Masih Bos,’‘ jawab saya tegas.

Jawaban dua kata itu ternyata panjang dampaknya. Jawaban pendek itu seketika mengubah jalan hidup saya, dari seorang reporter menjadi pemimpin perusahaan.  ‘‘Oke. Anda akan ditugaskan memimpin koran Mercusuar di Palu, Sulawesi Tengah,’‘ kata Dahlan, ketika bertemu saya beberapa jam kemudian.

‘‘Apa yang akan Anda lakukan untuk membesarkan koran itu?’‘ tanya Dahlan, dalam rapat besar di kantor lama di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan.

Menjawab pertanyaan itu, saya segera mengemukakan rencana pembenahan manajemen redaksinya. Persis seperti nasihat Dahlan yang sering saya dengar langsung. ‘‘Koran gagal atau sukses itu, nomor satu ditentukan kualitas redaksinya. Nomor dua karena redaksinya. Nomor tiga karena redaksinya. Nomor 27 karena pemasaran korannya. Nomor 28 karena pemasaran iklannya.’‘

Nasihat itu begitu membekas dalam ingatan saya. Karena itu, sebagai reporter, saya berusaha untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik dengan jumlah yang cukup dan diserahkan tepat waktu. Bukankah penyebab keberhasilan dan kegagalan koran nomor 1 sampai 26 karena redaksinya?

‘‘Sudah berapa lama bekerja sebagai wartawan Jawa Pos?’‘ tanya Dahlan. ‘‘Dua tahun, Pak Boss,’‘ jawab saya.

‘‘Sudah pernah mendapat penghargaan dari perusahaan?’‘ lanjut Dahlan. ‘‘Sudah Pak Boss. Saya dua tahun mendapat hadiah tour ke luar negeri,’‘ jawab saya.

Setahun setelah bekerja, saya memang mendapat hadiah liburan ke ke Singapura selama empat hari. Tahun berikutnya saya mendapat hadiah lebih jauh dan lama, jalan-jalan ke Amerika Serikat selama tiga minggu berkeliling dari Hawai hingga Texas dan menikmati festival bunga terbesar di dunia di Pasadena.

‘‘Modal sebagai wartawan berprestasi saja tidak cukup untuk mengelola sebuah perusahaan media. Koran tidak akan hebat hanya karena redaksinya hebat. Redaksi hebat tidak ada artinya kalau pemasarannya tidak hebat. Tim percetakannya hebat. Tim distribusinya hebat. Tim keuangannya hebat. Itu semua akan menjadi tanggung jawab Anda,’‘ kata Dahlan.

Deg! Kegembiraan saya mendadak sirna. Perlahan tapi pasti, bayangan enaknya menjadi pimpinan itu pun lenyap. Keragu-raguan untuk bisa mengelola perusahaan sebagaimana yang diharapkan Dahlan, mulai mengganggu. Keraguan itu berpuncak pada rasa takut yang berkepanjangan!

Bagaimana mengelola percetakan? Bagaimana mengelola distribusi? Bagaimana mengelola pemasaran? Bagaimana mengatasi kesulitan keuangan? Bagaimana kalau bangkrut? Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya tanpa bisa dihentikan.

Dahlan rupanya pandai membaca perasaan. ‘‘Bagaimana? Anda mau berubah pikiran?’‘ tanya Dahlan sambil tertawa.

Bayangan menjadi general manager dengan tanggung jawabnya yang sangat besar itu benar-benar menakutkan.  Sebagai general manager saya harus mengelola seluruh urusan perusahaan. Dari yang remeh-temeh hingga yang berat-berat.

‘‘Mampukah saya? Ambil atau tidak? Jadi reporter saja. Malu ah, tadinya bersemangat kok sekarang takut?’‘ Beragam suara itu seakan terdengar di telinga saya sahut-menyahut.

‘‘Perlu keberanian untuk mengambil keputusan. Hanya orang-orang yang berani yang berhasil mengubah nasibnya,’‘ lanjut Dahlan, membuka komunikasi yang sempat terhenti.

‘‘Kalau saya menjadi Anda, saya akan konsisten. Kesempatan baik belum tentu datang dua kali. Kalau pun kesempatan baik datang lagi, belum tentu tahun depan. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi,’‘ ujar Dahlan.

‘‘Tapi saya benar-benar belum punya pengalaman mengelola perusahaan penerbitan koran. Saya baru bisa mengelola informasi menjadi berita,’‘ sahut saya.

‘‘Saya tunggu Anda di Surabaya besok pagi. Uang operasional selama tiga bulan sudah disiapkan. Berangkatlah ke Manado untuk belajar bagaimana mengelola perusahaan koran,’‘ kata Dahlan menutup pembicaraan.

‘‘Bagaimana kalau bangkrut?’‘ tanya saya sebelum Dahlan meninggalkan ruangan. ‘‘Bangkrut tidak apa-apa. Yang penting bukan bangkrut karena dikorupsi. Anggap saja kerugian itu sebagai biaya kursus manajemen,’‘ jawab Dahlan sambil berlalu.

Meski jawaban terakhir ini sangat membesarkan hati, namun tidak sanggup membuang rasa takut yang terlanjut menjadi-jadi. Dalam kegalauan dan rasa kantuk menjelang tengah malam, mendadak terbayang ibu saya yang tinggal di kota kecil, Purwodadi, Jawa Tengah.

Dalam bayangan itu, ibu saya sangat senang mendengar rencana kepindahan saya ke Palu. Saya melihat ekspresi ibu saya itu berbeda dibanding waktu saya kabarkan tawaran dari kampus saya, Universitas Diponegoro, untuk menjadi dosen di Universitas Cendrawasih, di Jayapura, pada 1991.

Adzan subuh yang terdengar sayup-sayup dari masjid di seberang mess membangunkan saya dari tidur malam. Seusai salat, saya segera berkemas. Niat sudah bulat. Cara membalik nasib adalah berangkat ke Palu tanpa ragu. Provokasi Dahlan itu yang membuat saya bertahan di Palu selama enam tahun menghadapi berbagai kesulitan dan jatuh-bangun.

Sebuah pengalaman pribadi

Joko Intarto

Penulis dan Praktisi Bisnis Media

Follow me @IntartoJoko

Catatan:

Ini merupakan seri pertama dari tiga tulisan yang saya siapkan untuk memperingati ulang tahun ke-12 Harian Radar Sulteng.

Investasi Aman untuk Awam

Hari-hari ini, ramai betul orang membahas soal Patungan Usaha dan Patungan Asset yang dikelola Ustadz HM. Yusuf Masyur. Dari orang biasa hingga pejabat tinggi, dari media cetak hingga televisi, semua ramai memperbincangkannya.

Saya tertarik menulis soal investasi ini bukan untuk mengulas model bisnis yang dijalankan ustadz muda Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an, Cipondoh, Tangerang, itu. Sebab, saya tidak mengetahui bagaimana model bisnisnya, juga bukan salah satu pemodal dalam bisnis itu. Dari sisi pengetahuan, saya juga merasa bukan orang yang memiliki kompetensi membahas soal investasi.

Saya ingin menulis soal investasi ini dari sisi masyarakat biasa, yang juga ingin mengembangkan bisa dananya yang tidak seberapa itu. Tentu orang-orang seperti saya perlu mengerti cara berinvestasi yang benar, aman dan memberi manfaat.

Hikmah dari ramainya orang memperbincangkan bisnis Patungan Usaha dan Patungan Asset yang dirintis Ustadz Yusuf Mansyur, adalah datangnya sebuah momentum. Ketika masyarakat sedang memiliki perhatian yang cukup dalam bidang investasi, saat itulah, siapa pun dia, menemukan saat yang tepat untuk mengedukasi publik tentang pentingnya memahami berbagai aspek dalam investasi.

Ketika menonton dialog di TV One Kamis malam (18/07) yang menghadirkan Ustadz Yusuf Mansyur, saya sebagai seorang awam mendapat sebuah pencerahan, tentang prinsip penting dalam berinvestasi. Pencerahan itu saya catat dalam lima prinsip investasi.

Prinsip pertama: investor harus melakukan verifikasi apakah lembaga pengelola investasi itu badan hukum atau bukan. Menurut undang-undang, lembaga yang menarik dana dari masyarakat, haruslah berbadan hukum. Karena itu, perorangan tidak diperkenankan melakukan penarikan dana dari masyarakat dengan dalih investasi.

Saya sependapat dengan hal itu. Saya teringat beberapa kisah pilu para investor yang kehilangan dana karena pimpinan lembaga investasi yang ternyata tidak pernah memiliki izin itu kabur entah kemana. Saya juga teringat bagaimana sulitnya nasabah menarik dananya, saat pimpinan koperasi pengelola investasi itu meninggal saat dalam tahanan polisi.

Umur seseorang terbatas. Orang bisa meninggal setiap saat. Namun, bisnis investasi harus didesain sebagai bisnis yang tidak terpengaruh oleh kematian orang-orang yang mengelola. Bisnis investasi harus didesain agar bisa diteruskan oleh orang-orang lain yang ditunjuk, baik melalui jual beli maupun melalui pewarisan harta.

Prinsip kedua: investor harus melakukan verifikasi, apakah lembaga investasi sudah memiliki izin menarik dana masyarakat atau belum. Verifikasi izin ini menurut saya sangat penting. Sebab, bila lembaga yang tidak memiliki izin bisa menarik dana masyarakat, saya sebagai anggota masyarakat sangat berisiko menjadi korban investasi bodong.

Prinsip ketiga: investor harus melakukan verifikasi apakah produk yang ditawarkan sudah memiliki izin atau belum? Ferifikasi izin atas produk ini, menurut saya juga sangat penting. Sebab, investor harus tahu lebih dulu produk yang akan dibeli.

Dengan mengetahui produknya, trend bisnisnya, akan bisa diperkirakan masuk akal atau tidak keuntungan yang dijanjikan produk tersebut dan setelah berapa lama investor bisa mulai menikmati keuntungan investasinya.

Prinsip keempat: investor harus melakukan verifikasi, siapa ahli yang akan mengelola dana dan produk tersebut. Sebagai orang yang memiliki uang terbatas, tentu saya harus yakin dengan orang yang akan ditunjuk sebagai pengelola dana dan produk itu.

Prinsip kelima: investor harus melakukan verifikasi atas informasi kinerja keuangan yang diberikan lembaga investasi. Benarkah informasi yang disajikan bisa dipertanggungjawabkan? Siapa pihak bisa yang mengontrol laporan kinerja perusahaan itu?

Kelima prinsip itu, merujuk pada satu hal: bisnis investasi selalu berbasis rasionalitas. Perhitungan investasi bertumpu pada proyeksi laba dan rugi yang sangat ditentukan oleh jenis produk, dan profesionalitas orang-orangnya. Maka, apapun produknya, siapapun pengelolanya, masyarakat harus mengetahui bahwa produk dan pengelolanya haruslah sudah melewati screening atau fit and proper test.

Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, masyarakat berulang kali terguncang oleh peristiwa investasi bodong. Ratusan miliar rupiah, bahkan mungkin triliunan rupiah dana masyarakat yang ditanam dalam produk investasi, lenyap begitu saja, dalam waktu sekejap.

Sekitar 15 tahun lalu, banyak teman saya yang mengalami kerugian besar. Bila dijumlahkan, nilai kerugiannya miliaran rupiah. Mereka tergoda dengan model investasi dengan produk bermacam-macam. Dari peternakan bebek, perkebunan durian hingga koin emas.

Karena begitu hebohnya bisnis investasi saat itu, Dahlan Iskan sebagai CEO Jawa Pos Group sampai-sampai harus menggelar rapat khusus dengan semua pimpinan perusahaannya.

“Bisnis itu rasional. Maka, keuntungannya juga harus rasional. Bila ada bisnis apapun yang menawarkan keuntungan fantastis, kita harus waspada. Sebab, itu tidak rasional,” kata Dahlan saat itu (Akal Sehat Dahlan Iskan, Cetakan I, April 2013).

Walau banyak teman saya yang merugi, saya termasuk yang selamat dari godaan bisnis investasi itu. Bukan karena sudah paham seluk-beluk investasi, tetapi karena memang tidak punya dana nganggur untuk diinvestasikan.

Joko Intarto

Penulis buku Akal Sehat Dahlan Iskan, Cetakan I, April 2013

Follow me @intartojoko

Berita “Gaya Saya”

Sebenarnya ini kasus kecil dan sangat pribadi. Sebuah kisah tentang wanita berinisial ST yang ingin tampil cantik dan awet muda, pada tahun 1992.

ST, pengusaha salon kecantikan di Surabaya, melaporkan seorang ahli bedah plastik ke polisi. Gara-garanya, cairan yang ditanam di jidatnya bocor. Bukannya jadi tambah cantik, tapi wajahnya malah jadi rusak. Belakangan, diketahui bahwa ahli bedah plastik itu dokter gadungan!

Karena minimnya informasi dari kepolisian, berita hanya diturunkan dalam ukuran mini. Itu pun dibuat dengan gaya berita lucu. Eh, setelah terbit, Dahlan Iskan memerintahkan agar dilakukan blow up berita itu dalam laporan khusus.

“Sebelum deadline harus sudah dapat wawancara dan fotonya. Bagaimana pun caranya,” perintah Dahlan melalui radio panggil atau pager.

Radio pager adalah alat komunikasi yang sangat gaya sebelum hadirnya handphone. Bentuknya kotak seukuran bungkus rokok. Bisa menerima pesan text seperti SMS. Tetapi cara mengirim text harus melalui operator radio panggil itu. Starko adalah merek yang paling terkenal.

Setelah menerima pesan Dahlan, saya pun membatalkan jadwal libur mingguan. Setelah berputar-putar mencari sumber berita yang bisa memberi informasi, dapatlah sebuah titik terang: dia punya salon di kawasan pertokoan di Surabaya Barat.

Sampai di kompleks pertokoan, waktu sudah lepas magrib. Celakanya, ada dua salon di kompleks itu. Hampir berdempet pula lokasinya.

Agar tidak dicurigai, saya pura-pura potong rambut. Rambut gondrong sebahu terpaksa saya potong. “Potong model apa mas?” tanya petugas salon.

Saya bingung menjawab pertanyaan sederhana itu. Jujur, seumur-umur belum pernah potong di salon. Biasanya potong di tukang cukur keliling saja. “Tomorrow never die,” jawab saya.

“Model apa itu Mas?” tanya petugas salon. “Itu lho kayak James Bond,” jawab saya.

Selama potong rambut, petugas itu saya ajak ngobrol soal pengusaha salon yang lapor polisi. Sayangnya, sampai selesai potong rambut, jawaban yang saya tunggu-tunggu tidak dapat juga.

Keluar dari salon pertama,  saya harus mendapat akal agar tidak gagal. Apalagi, waktu sudah semakin mendekati deadline.

Saat sedang putar otak di depan salon kedua, ada seorang pria penjaga toko buah pinjam korek api. Rupanya dia mau merokok tetapi tidak punya korek.

Langkah pertama yang saya lakukan sambil menyodorkan korek adalah “sok akrab”, seakan-akan kawan lama yang tidak pernah bertemu. “Lho Mas Iqbal kerja di sini?” tanya saya pura-pura kenal. Saya tahu namanya, karena ada name tag di bajunya.

Saya beri salam seperti itu, Iqbal gak kalah aksi. “Iya. Sampeyan sekarang kerja di mana?” tanya Iqbal.

“Kerja di supplier peralatan salon,” jawab saya. “Mau menawarkan peralatan salon baru, malah bos-bos salon ini tidak ada semua,” jawab saya.

“Bos yang salon itu baru pulang. Tadi beli buah di toko saya. Kalau bos salon yang satunya lagi ngumpet gara-gara jadi berita di ‘Jawa Pos’ tadi pagi. Seharian tidak masuk,” jelas Iqbal.

Jawaban Iqbal seakan saya mendapat durian runtuh. “Memang sampeyan kenal juga?” pancing saya.

“Kenal. Saya pernah ikut bos saya diundang syukuran waktu pindahan ke rumah baru di perumahan Darmo Permai,” jelas Iqbal. “Tapi saya lupa di mananya. Sampeyan tunggu saja salonnya sampai tutup. Ada beberapa karyawan yang nanti dijemput ojek ke rumah bosnya,” kata Iqbal.

Yakin dengan informasi Iqbal, saya bergegas masuk salon kedua. “Mau potong rambut mbak,” kata saya. “Kayaknya baru saja potong kok mau potong lagi?” tanya petugas salon itu. “Saya mau cukur gundul,” jawab saya.

Sambil dicukur gundul, saya ngobrol dengan petugas salon. “Boss kok tidak kelihatan?” pancing saya. “Memang sampeyan kenal?” jawab petugas itu dengan nada bertanya. “Kenal dong. Kan saya salah satu supplier peralatan salon ini,” jawab saya dengan percaya diri.

“Kok nggak ke rumah saja,” jelas petugas itu. “Oh iya, biasanya juga begitu. Tapi sudah hari ini janjiannya di sini,” jawab saya.

“Bos hari ini tidak masuk. Gara-gara ada beritanya di koran,” jawab dia.

“Kalau begitu saya habis ini ke rumahnya sajalah. Ada barengan nggak? Saya sudah agak lupa alamatnya kalau malam,” jawab saya.

“Bareng saya saja. Saya dijemput ojek. Nanti iring-iringan,” kata petugas itu.

Selesai cukur gundul, jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00. Salon tutup. Satu per satu karyawannya pulang. Dua orang di antaranya pulang dengan ojek langganan menuju rumah ST. Saya mengikuti di belakangnya dengan sepeda motor.

Tiba di rumah tujuan, saya nyelonong ke kursi teras. Petugas salon yang baik hati itu masuk ke dalam dan melaporkan kedatangan saya. Semenit, dua menit, setengah jam, satu jam, petugas itu tidak muncul. Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 22.30. Saya mulai gelisah karena satu jam lagi sudah deadline berita.

Saya pencet bel beberapa kali. Tidak ada yang membuka pintu. Tiba-tiba pager saya berbunyi. Dahlan mengirim pesan. “Beritanya ditunggu sampai pukul 00:00. Harus dapat foto saat wajahnya,” kata Dahlan.

Akhirnya, pengusaha yang saya cari-cari itu akhirnya keluar dengan muka kesal dan marah. Wajahnya diplester. Tapi kelihatan bengkak hingga ke hidungnya. “Saya minta Anda pulang atau saya lapor polisi!” kata ST dengan nada tinggi.

“Saya tidak akan pulang kalau Ibu belum mendengar penjelasan ini,” jawab saya.

Sienny terdiam beberapa saat. “Oke, saya kasih waktu menjelaskan lima menit. Silakan duduk di ruang tamu,” jawab Sienny.

“Begini. Dalam pemberitaan Jawa Pos, ibu adalah korban. Saya mau sampaikan kepada ibu bahwa dokter itu ternyata dokter gadungan. Ijazahnya palsu. Sudah dicek di universitas di Tiongkok. Tidak ada alumni dengan nama itu,” jelas saya.

Mendengar penjelasan itu, Sienny mendadak tertarik. “Bener dia dokter gadungan?” tanya Sienny. “Bener. Saya sudah dapat penjelasan dari sumber terpercaya,” jawab saya.

Setelah mendapat cukup banyak bahan, tugas terakhir adalah mencari foto. Tugas ini tidak mudah karena dia tidak mau meminjamkan foto atau membolehkan saya memotret. “Boleh saya minta minum?” tanya saya. “Mau teh atau kopi atau air putih?” tanya ST. “Teh panas saja,” jawab saya.

Teh panas saya pilih, agar cukup lama menyiapkannya. Selama dia menyiapkan teh panas, sebuah foto diri Sienny berukuan ukuran 100 centimeter x 60 centimeter yang tergantung di dinding langsung saya repro. Itulah satu-satunya foto yang berhasil saya dapatkan.

Repro selesai, Sienny keluar membawa dua cangkir teh panas. Setelah minum seteguk, saya pamit pulang. Saya janji datang lagi besok pagi membawakan koran terbaru hasil wawancara itu.

Sampai di kantor, deadline tinggal 20 menit lagi. Bagaimana menulis bahan yang banyak secepat itu? “Bikin dengan gaya saya,” kata Dahlan.

“Saya punya gaya menulis sendiri. Pak Boss punya gaya menulis sendiri. Mana bisa saya meniru gaya tulisan Pak Boss?” tanya saya.

“Gaya saya itu, menulis apa adanya yang sampaikan narasumber. Jangan Anda ubah menjadi gaya penuturan Anda. Biar natural,” jelas Dahlan.

Malam itu, saya mendapat ilmu baru dalam gaya penulisan berita. Yakni “gaya saya”. Semua informasi ditulis seakan-akan narasumber yang menulis sendiri. Natural dan cepat!

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko

Foto pun Harus Bicara

Foto berita karya wartawan Jawa Pos Sholihuddin, sekarang pimpinan Radar Kediri, yang menjadi juara dunia, dalam lomba foto jurnalistik.
Foto berita karya wartawan Jawa Pos Sholihuddin, sekarang pimpinan Radar Kediri, yang menjadi juara dunia, dalam lomba foto jurnalistik.

Sebagai pengusaha media massa, Dahlan Iskan paham benar harapan pembaca. Karena itu, Dahlan sangat cerewet soal berita. Berita teks dan berita foto, semua dipelototinya.

Berita foto, menurut Dahlan, sering kali lebih menarik dibanding  berita tulisnya. Bahkan, ada beberapa peristiwa yang sudah bisa dimengerti hanya dengan mengamati foto saja. “Jadi, foto yang baik adalah foto yang bisa berbicara,” kata Dahlan.

Pada awal-awal menjadi wartawan “Jawa Pos” di Surabaya pada tahun 1991, saya pernah ditegur Dahlan soal foto. Dalam sebuah acara Pemerintah Daerah Kota Surabaya, saya menyodorkan beberapa foto walikota Surabaya yang sedang berpidato. “Ini bukan foto berita yang bagus. Ini tidak cocok untuk koran. Ini cocoknya hanya untuk majalah humas Pemda,” kata Dahlan.

Awalnya saya tidak “ngeh”. Karena itu, saya membantah. “Apa bedanya foto Walikota Surabaya pidato di acara ini, dengan pidato di rapat kerja yang lain? Tidak ada bedanya. Semua hanya menampilkan gambar orang pidato. Apa menariknya gambar orang pidato? Apa yang bisa diceritakan dari gambar ini?” tanya Dahlan.

Ketika saya sodorkan foto walikota menggunting pita, Dahlan lagi-lagi mengatakan hal yang sama. “Ini foto humas,” ucap Dahlan.

Jadi, bagaimana membuat foto yang baik? Saya tanya demikian, Dahlan kemudian memberi beberapa saran. Pertama, sebelum memotret, wartawan harus mengerti siapa yang akan melihat foto itu. “Kalau akan dimuat di koran, harus tahu siapa pembaca koran itu? Mayoritas pria atau wanita? Mayoritas dewasa atau remaja? Pengetahuan terhadap siapa konsumen media akan mempengaruhi pilihan objek fotonya,” kata Dahlan.

Kedua, foto berita harus memperlihatkan aktivitas orang agar hidup. Misalnya dalam sebuah kebakaran, orang yang sedang berjuang memadamkan api lebih baik menjadi objek foto, ketimbang foto api yang menyala-nyala.

Memasukkan foto orang yang memadamkan api itu pun tidak boleh sembarangan, alias asal-asalan. “Usahakan foto orang itu kelihatan wajahnya sehingga bisa dikenali pembaca,” kata Dahlan.

“Untuk apa?” tanya saya. “Agar kalau termuat, orang itu merasa bangga karena masuk koran. Kalau ada pembaca lain yang mengenali, pembaca itu akan menginformasikan kepada orang yang ada di dalam koran itu. Jadi, foto seperti itu akan membuat orang bangga dan juga ngerumpi. Yang dirumpikan adalah koran Anda,” jelas Dahlan.

Ketiga, foto berita jangan sampai membuat pembaca tidak suka. Walau foto itu secara jurnalistik benar, tetapi belum tentu disenangi pembaca. Perasaan tidak senang itu membekas sangat lama pada benak pembaca. “Besok-besok, pembaca itu tidak akan mau membaca lagi, karena masih trauma,” kata Dahlan.

“Apa foto yang bisa membuat trauma pembaca?” tanya saya. “Foto yang sadis dan berdarah-darah harus dihindari. Pembaca kelas menengah tidak menyukai foto-foto itu. Pembaca kelas menengah senang foto orang-orang yang cantik dan wangi,” terang Dahlan.

Yang menarik, Dahlan juga menceritakan soal pentingnya wartawan foto memahami perasaan politik pembaca. “Jangan memajang wajah tokoh politik yang sudah tidak disukai publik. Apalagi memasangnya di halaman satu,” kata Dahlan.

“Mengapa?” tanya saya dengan penasaran. “Nanti koran Anda bisa tidak laku,” kata Dahlan.

Menjelang  ambruknya Orde Baru, tidak pernah ada lagi foto tokoh Orde Baru itu di halaman utama ““Jawa Pos””. Berita-berita penting kepresidenan tetap dimuat, tetapi foto wajah Pak Harto hanya dipasang di halaman belakang.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi
Follow me @intartojoko

Program KB Gagal, Wajib Ramah Krismon

Percetakan Jawa Pos Group berkembang pesat saat krismon.
Percetakan Jawa Pos Group berkembang pesat saat krismon.

Dalam pengembangan usaha, Jawa Pos Group boleh dibilang sangat agresif. Pada tahun 1990, jumlah unit usahanya kurang dari 10. Sekarang sudah hampir 300 unit. Dalam tempo 32 tahun, unit usaha telah bertambah 290. Kalau dirata-rata, setiap 1,5 bulan Jawa Pos Group melahirkan satu unit baru!

Selain Jawa Pos, anak-anak perusahaannya juga tak kalah gesit. Riau Pos, Batam Pos, Sumatera Ekspres, Manado Pos, Kaltim Post, Pontianak Post, Radar Lampung, Radar Cirebon, Radar Bogor, Rakyat Merdeka, Fajar dan Cendrawasih Post, telah melahirkan banyak cucu Jawa Pos Group. Hampir semua mengembangkan anak usaha di bidang penerbitan media dan percetakan.

Pertumbuhan yang sangat agresif itu, bagi banyak orang dianggap luar biasa. Padahal, perkembangan yang cepat itu sungguh mencemaskan Dahlan. Terlebih ketika Indonesia mengalami krisis moneter seiring jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998.

Dalam sebuah rapat pimpinan anak perusahaan Jawa Pos Group pada 1998, Dahlan menyarankan agar Jawa Pos Group mengikuti program “keluarga berencana”. Kelahiran anak perusahaan harus dikendalikan agar tidak menjadi beban.

Ternyata, saran KB itu ditentang. Para pimpinan anak-anak perusahaan banyak yang tetap pada pendirian semua, mengembangkan anak usaha sesuai rencana. Umumnya menganggap perlunya ekspansi pada saat kompetitor sedang kelimpungan.

Merasa saran untuk ikut “KB” tidak mendapat dukungan, Dahlan kemudian memberi jalan. “Boleh ekspansi dengan syarat perusahaan baru harus didesain ramah krismon,” kata Dahlan.

Ide perusahaan ramah krismon ini diperoleh Dahlan setelah mempelajari kisah sukses beberapa perusahaan baru yang didirikan dalam suasana krisis di Amerika Latin.

“Banyak perusahaan lama di Amerika Latin ambruk saat krisis. Tapi banyak perusahaan baru yang dibangun saat krisis bahkan sukses luar biasa. Perusahaan lama, sudah terlanjur gendut. Sementara perusahaan baru didesain sangat langsing,” lanjut Dahlan.

Karena langsing, lanjut Dahlan, perusahaan baru tidak banyak punya karyawan. Karyawan sedikit, sangat menghemat ruangan. Hemat ruang berarti hemat sewa, listrik, telepon dan air minum.

“Karena karyawan sedikit, semua harus multitasking. Seorang karyawan front office harus bisa mengerjakan tugas-tugas administrasi, sekretaris perusahaan dan juga pemasaran. Demikian juga karyawan bagian lainnya,” lanjut Dahlan.

Sekitar separuh anak perusahaan Jawa Pos Group lahir pada saat krismon. Dengan organisasi yang ramping dan karyawan yang multitasking, perusahaan-perusahaan itu berkembang sangat baik hingga sekarang, dengan tetap ramah krismon.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi

Follow me @intartojoko

Penangkapan Jupe dan Gagak Malam

Jupe dalam sebuah acara.
Jupe dalam sebuah acara.

“Kalau ada gagak berkaok-kaok tengah malam, tandanya besok akan terjadi peristiwa besar.” Cerita nenek saat saya masih kecil itu tiba-tiba terngiang, saat menerima sebuah pesan pendek. “Jupe berhasil ditangkap,” bunyi SMS itu.

Julia Perez yang bernama asli Yuli Rahmawati itu, tadi malam (18/3), sekitar pukul 21.45, memang ditangkap Kejaksaan Tinggi DKI. Artis bohai itu ditangkap di rumah persembunyiannya, Cluster Spring Land Blok T-11 Nomor 14, Raffles Hills, Cibubur, Jakarta Timur.

Dengan penangkapan ini, Jupe yang sudah berstatus DPO (daftar pencarian orang) itu akan segera masuk bui. Pelantun “Belah Duren” itu harus menjalani hukuman kurungan, setelah divonis bersalah karena berkelahi dengan Dewi Perssik.

Dalam cerita nenek, penangkapan Jupi boleh jadi hanya gambaran burung gagak yang berkaok-kaok tengah malam. Kasus ini sungguh tidak penting, disbanding skandal daging sapi, benih padi gagal panen atau misteri harga bawang.  Tapi, tetapi suara gagak itu benar-benar memecah kesunyian.

Jangan-jangan, cerita nenek saya benar. Saat besok semua perhatian orang tertuju pada Jupe, akan ada berita yang besar.  Bisa jadi, Komisi Pemberantasan Korupsi akan menetapkan tersangka baru dalam skandal impor daging sapi. Bisa jadi, ada perkembangan signifikan pada skandal pengadaan bibit padi. Bisa jadi, SBY bakal semakin keras memarahi menteri gara-gara harga bawang yang belum terkendali. Bisa juga ketidakpercayaan publik pada hasil survey calon presiden 2014, besok diklarifikasi oleh LSI. Entahlah. Terlalu banyak berita besar yang bisa terjadi di negeri ini.

Penangkapan Jupe, jangan-jangan, memang perlambang, bahwa sesuatu yang besar, akan terjadi esok pagi.

Joko Intarto, sebuah catatan pribadi

Follow me @intartojoko